Kopiah Putih, Lidah Hitam
![]() |
| Ilustrasi |
Di atas kepala seorang pemimpin desa, bertengger sebuah kopiah putih. Putih, katanya, lambang kesucian. Putih, katanya, penanda iman. Tapi di bawah naungan putih itu, lidahnya menghitam, hatinya berlubang, dan janji-janjinya hanyalah asap yang berputar sebelum lenyap ditelan angin.
Dulu ia berdiri di mimbar, menyeru dengan ayat dan doa, dihormati sebagai imam yang berilmu. Kini, setiap ucapannya lebih mirip bisikan ular: manis di telinga, berbisa di hati. Rakyat mengira ia gembala, padahal ia serigala yang pandai menyamarkan taring.
Ketika musibah menimpa warganya, ia hadir sebagai saksi. Mula-mula membela korban, seakan pedang keadilan masih digenggamnya. Namun seiring berjalannya waktu, pedang itu ia jual di pasar gelap; pelaku ia lindungi, korban ia khianati. Putih di kepalanya hanyalah topeng, sementara di baliknya terselip noda sogokan yang tak bisa dicuci dengan air wudhu.
Musyawarah desa berubah menjadi panggung sandiwara. Keputusan bukan lahir dari keadilan, melainkan dari kantong siapa yang lebih tebal. Kata “damai” dipelintir menjadi belati: menikam korban dengan senyum palsu. Maka rakyat pun menyerah pada satu-satunya jalan: membawa luka mereka ke hadapan hukum, karena meja musyawarah sudah terbalut kabut dusta.
Namun dusta bukan hanya di sana. Uang desa pernah ia genggam erat, lalu menguap entah ke mana. Warga pernah menggugat, tapi ia menutupinya dengan ceramah manis, seolah firman bisa menjadi tirai untuk menutupi kejahatan. Ia lupa: rakyat mungkin diam, tapi diam mereka bukan tanda setuju—hanya menunggu saatnya mengguncang kursi yang ia cintai.
Kini, dengan wajah setebal tembok, ia masih bernafsu mencalonkan diri lagi. Seakan rakyat tuli, seakan ingatan mereka bisa dipadamkan dengan selembar senyum di balik kopiah putihnya. Padahal, rakyat sudah muak: mereka melihat bahwa putih di kepalanya hanyalah warna kain, bukan warna hati.
Sebab putih bisa menipu mata, tetapi sejarah tak bisa ditipu. Dan ketika waktu menyingkap segala selubung, yang tersisa hanyalah kepala botak yang memalukan, berdiri di atas puing-puing kepercayaan yang pernah ia khianati.
(mis)

