Jejak Duka Diandra Hadirkan Cinta dan Luka Keluarga
![]() |
| Michelle Ziudith, Rio Dewanto, dan Baiti Syaghaf memerankan karakter utama dalam sinetron Jejak Duka Diandra yang menyorot konflik cinta dan pengorbanan keluarga. [Foto: Vidio.com] |
Jakarta, relasinasional.com — SCTV resmi menayangkan sinetron terbaru berjudul Jejak Duka Diandra yang mengangkat konflik cinta dan keluarga dengan pendekatan realistis, dibintangi Michelle Ziudith, Rio Dewanto, dan pendatang baru Baiti Syaghaf. Sinetron ini menyorot pengorbanan seorang kakak perempuan yang justru menjadi sumber luka terdalam dalam hidupnya. Cerita dikemas emosional dengan konflik berlapis yang dekat dengan realitas sosial penonton.
Michelle Ziudith memerankan Diandra, sosok kakak sulung yang dikenal hangat, tangguh, dan selalu mendahulukan keluarga. Di balik sikapnya yang menenangkan, Diandra menyimpan beban besar ketika harus merelakan pria yang dicintainya demi kebahagiaan sang adik. Pilihan tersebut menjadi titik balik yang memperlihatkan bahwa pengorbanan tidak selalu berujung kebahagiaan.
“Namanya Jejak Duka Diandra, bukan Jejak Duka Dimitri. Itu menegaskan bahwa pusat luka terbesar ada pada Diandra. Dia mengorbankan perasaannya, bahkan masa depannya. Sakit, tapi baginya keluarga tetap nomor satu,” ungkap Michelle.
Rio Dewanto hadir sebagai Dimitri, pria mapan dan penyabar yang awalnya digambarkan sebagai pasangan ideal. Namun, rasa kecewa dan luka batin perlahan mengubahnya, menjadikan Dimitri karakter abu-abu yang emosional dan penuh konflik batin. Perubahan ini menjadi salah satu kekuatan cerita yang membuat alurnya terasa manusiawi.
“Ceritanya sangat manusiawi. Ketika seseorang dikecewakan atau dijebak, dia bisa berubah. Penonton akan diajak melihat apakah Dimitri akan tetap pada sikap manisnya atau justru menjadi sosok yang berbeda,” jelas Rio.
Konflik utama semakin tajam dengan kehadiran Yunita, adik Diandra yang diperankan Baiti Syaghaf. Keinginannya memiliki apa yang dimiliki sang kakak memicu cinta segitiga yang rumit dan menyakitkan. Karakter Yunita digambarkan sebagai duri dalam daging yang menegaskan bahwa konflik terdalam sering kali datang dari orang terdekat.
“Kalau penonton kesal, berarti akting saya berhasil,” ujar Baiti menanggapi potensi respons publik terhadap karakternya.
Berbeda dari sinetron kebanyakan, Jejak Duka Diandra tidak menempatkan karakter dalam kotak hitam dan putih. Setiap tokoh memiliki alasan, luka, dan sisi rapuh yang membuat cerita terasa dekat dengan kehidupan nyata. Pendekatan ini menjadi nilai tambah yang membedakan sinetron tersebut di tengah maraknya drama serupa.
Dengan akting emosional dan konflik dewasa yang berlapis, Jejak Duka Diandra tak sekadar menyajikan kisah cinta, tetapi juga potret tentang batas pengorbanan dalam keluarga. Sinetron ini tayang di SCTV dan menyasar penonton yang mencari drama keluarga dengan emosi yang lebih dalam dan relevan. (mis/red)

