BREAKING NEWS

Dukungan Palestina untuk Indonesia Sudah Ada Sejak 1944

Resepsi pengakuan Mesir terhadap kemerdekaan Indonesia 1947 dihadiri Haji Agus Salim dan tokoh dunia Arab
Menteri Luar Negeri RI Haji Agus Salim menghadiri resepsi perayaan pengakuan Mesir atas kemerdekaan Indonesia di Kairo, 9 Juni 1947. Turut hadir Pangeran Faisal selaku Menteri Luar Negeri Arab Saudi dan Mufti Besar Palestina Muhammad Amin al-Husaini. Foto ini menandai dukungan awal dunia Arab terhadap kedaulatan Indonesia. [Foto: Istimewa via Observerid.com]

 Jakarta, relasinasional.com — Jauh sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945, Palestina sudah lebih dulu mengakui dan mendukung kemerdekaan Indonesia. Dukungan itu datang saat Indonesia bahkan belum dikenal dunia sebagai sebuah negara.


Fakta sejarah ini kerap luput dari ingatan publik. Padahal, inilah salah satu fondasi kuat mengapa Indonesia hingga kini konsisten membela Palestina di panggung internasional.


Artikel ini mengulas kronologi, aktor kunci, serta dampak jangka panjang dukungan Palestina terhadap posisi diplomatik Indonesia hari ini.


Dukungan Palestina Dimulai Saat Indonesia Belum Merdeka


Pada 1944, situasi Indonesia masih berada di bawah pendudukan Jepang. Proklamasi belum terjadi. Pemerintahan republik pun belum terbentuk.


Namun, di tengah ketidakpastian itu, suara dukungan datang dari Timur Tengah.


Sosok sentralnya adalah Mufti Besar Palestina, Syekh Muhammad Amin Al-Husaini.


1944: Pernyataan Dukungan yang Mengguncang Dunia Arab


Pada 6 September 1944, Syekh Al-Husaini menyiarkan dukungan terbuka terhadap kemerdekaan Indonesia melalui radio berbahasa Arab dari Berlin.


Pernyataan itu bukan siaran biasa.


Berita tersebut diputar ulang selama dua hari berturut-turut dan dimuat di surat kabar berpengaruh, Al-Ahram, di Mesir.


Maknanya jelas.


Ini adalah salah satu pengakuan paling awal dari tokoh dunia terhadap hak Indonesia untuk merdeka, bahkan sebelum negara ini resmi berdiri.


Dukungan moral ini memberi legitimasi internasional yang sangat krusial bagi perjuangan diplomasi Indonesia.


1945–1947: Lobi Arab untuk Mengakui Indonesia


Setelah Proklamasi, perjuangan belum selesai. Indonesia menghadapi tekanan militer dan diplomatik dari Belanda yang ingin kembali berkuasa.


Di fase inilah dukungan Palestina berubah menjadi lobi aktif.


Syekh Al-Husaini bersama Muhammad Ali Taher, saudagar Palestina yang mengorbankan hartanya untuk Indonesia, bergerak melobi negara-negara Liga Arab.


Hasilnya konkret.


Pada 22 Maret 1946, Mesir menjadi negara pertama di dunia yang secara resmi mengakui kedaulatan Indonesia.


Langkah Mesir kemudian diikuti negara-negara Arab lainnya.


Tanpa tekanan kolektif dari Timur Tengah, pengakuan internasional Indonesia dipastikan jauh lebih lambat.


1948: Dukungan Nyata Saat Indonesia Terdesak


Ketika Agresi Militer Belanda II pecah pada 1948, dukungan Palestina dan dunia Arab kembali terasa nyata.


Tokoh-tokoh Palestina mendorong negara-negara Arab menutup pelabuhan bagi kapal Belanda.


Bendera Merah Putih dikibarkan di berbagai pelabuhan strategis, termasuk di Terusan Suez.


Tekanan ini berdampak langsung pada jalur logistik Belanda.


Tak hanya itu.


Mesir bahkan menanggung seluruh biaya delegasi Indonesia ke Perserikatan Bangsa-Bangsa, sekitar 25 ribu dolar AS—angka besar pada masanya.


Langkah ini membuka jalan bagi perjuangan Indonesia di forum internasional.


Mengapa Indonesia Selalu Membela Palestina?


Dukungan Palestina bukan sekadar catatan sejarah. Ia membentuk sikap politik Indonesia hingga hari ini.


Ada tiga fondasi utama.


Ikatan Sejarah dan Utang Moral


Indonesia memandang dukungan Palestina sebagai utang sejarah.


Prinsip ini selaras dengan Pembukaan UUD 1945 yang secara tegas menolak penjajahan dalam bentuk apa pun.


Solidaritas ini bukan retorika, melainkan nilai dasar kebijakan luar negeri.


Konsistensi Diplomatik Tanpa Kompromi


Hingga kini, Indonesia tidak mengakui kedaulatan Israel.


Indonesia juga konsisten menjadi salah satu suara terdepan dalam mendukung Palestina di PBB, OKI, dan forum internasional lainnya.


Sikap ini tidak lahir tiba-tiba, melainkan berakar pada sejarah awal kemerdekaan.


Dukungan Nyata, Bukan Sekadar Pernyataan


Indonesia aktif menyalurkan bantuan kemanusiaan untuk Palestina.


Mulai dari bantuan darurat hingga pembangunan infrastruktur, seperti Rumah Sakit Indonesia di Gaza.


Diplomasi Indonesia juga kerap berperan sebagai jembatan komunikasi di isu Palestina.


Sejarah yang Masih Relevan Hari Ini


Dukungan Palestina pada 1944 adalah solidaritas antara dua bangsa yang sama-sama tertindas.


Dukungan itu hadir di saat Indonesia paling membutuhkan pengakuan dunia.


Ikatan sejarah ini menjelaskan mengapa isu Palestina selalu mendapat tempat istimewa dalam kebijakan luar negeri Indonesia.


Bukan sekadar sikap politik, tetapi konsekuensi dari sejarah. (mis/red)

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image