Madilog Tan Malaka Masih Relevan di Era Modern
Jakarta, relasinasional.com — Buku Madilog karya Tan Malaka bukan sekadar karya filsafat lama. Di tengah maraknya kepercayaan instan dan solusi irasional, gagasan ini justru terasa semakin relevan untuk membangun cara berpikir kritis dan mandiri.
Lebih dari 80 tahun lalu, tokoh yang dijuluki “Bapak Republik Indonesia” ini sudah memperingatkan bahaya terbesar sebuah bangsa. Bukan hanya penjajahan fisik, tetapi penjajahan pikiran.
Dan peringatannya masih terasa nyata hari ini.
Siapa Tan Malaka dan Mengapa Pemikirannya Penting
Tan Malaka bukan tokoh biasa. Ia adalah pemikir revolusioner yang pertama kali merumuskan konsep “Republik Indonesia” dalam bukunya Naar de Republiek Indonesia pada 1925, jauh sebelum kemerdekaan resmi diproklamasikan.
Ia bukan hanya pejuang di medan fisik. Ia juga bertempur di medan ide dan pemikiran.
Saat Jepang menduduki Indonesia pada 1942, ia hidup menyamar sebagai penjahit di Batavia. Dalam kondisi penuh risiko, ia menulis buku yang kemudian dikenal sebagai Madilog.
Buku ini bukan sekadar teori.
Ini adalah panduan mental untuk membebaskan bangsa.
Masalah Utama yang Disorot Madilog Masih Terjadi
Tan Malaka melihat satu masalah mendasar. Banyak orang lebih percaya pada kekuatan mistis daripada kemampuan diri sendiri.
Fenomena ini tidak hilang.
Bahkan pada era modern, praktik perdukunan masih diminati. Di beberapa daerah seperti Tangerang Selatan, kasus terkait praktik mistik masih ditemukan. Tragedi serupa juga pernah terjadi di Banyuwangi, ketika ketakutan dan rumor memicu kekerasan massal.
Masalahnya bukan sekadar soal percaya atau tidak percaya hal gaib.
Masalahnya adalah pola pikir pasif.
Ketika orang berhenti mencari solusi nyata, mereka kehilangan kendali atas masa depan sendiri.
Apa Itu Madilog dan Mengapa Penting Dipahami
Madilog adalah singkatan dari:
- Materialisme
- Dialektika
- Logika
Ini adalah tiga tahap berpikir rasional.
Materialisme mengajarkan melihat realitas apa adanya, bukan berdasarkan kepercayaan tanpa bukti.
Dialektika melatih kemampuan memahami sebab dan akibat.
Logika membantu mengambil keputusan berdasarkan akal sehat dan fakta.
Prinsip ini sederhana. Masalah nyata harus diselesaikan dengan tindakan nyata.
Bukan dengan harapan kosong.
Mengapa Madilog Relevan di Era Modern
Di era digital, informasi beredar cepat. Tapi tidak semua informasi benar.
Banyak orang lebih percaya hoaks daripada data.
Lebih percaya ramalan daripada riset.
Lebih percaya jalan pintas daripada proses belajar.
Inilah yang sudah diperingatkan Tan Malaka sejak lama.
Bangsa yang tidak berpikir kritis akan mudah dikendalikan.
Sebaliknya, bangsa yang berpikir rasional akan sulit ditipu.
Inilah fondasi kemajuan.
Tan Malaka Bukan Hanya Pejuang, Tapi Arsitek Mental Bangsa
Perjuangan Tan Malaka tidak hanya melawan penjajah luar. Ia juga melawan kelemahan internal bangsa sendiri.
Ia ingin rakyat Indonesia benar-benar merdeka.
Bukan hanya secara politik.
Tetapi juga secara mental.
Ia percaya kemerdekaan sejati dimulai dari cara berpikir.
Ironisnya, hidupnya berakhir tragis. Ia tewas di Kediri pada 1949, ditembak oleh bangsanya sendiri.
Namun gagasannya tidak pernah mati.
Pelajaran Penting untuk Generasi Modern
Ada satu pesan utama dari Madilog.
Kemajuan tidak datang dari keajaiban.
Kemajuan datang dari akal sehat, ilmu pengetahuan, dan kerja keras.
Tan Malaka tidak meminta orang meninggalkan kepercayaan pribadi.
Ia meminta bangsa ini untuk tidak berhenti berpikir.
Untuk berani bertanya.
Untuk berani mencari jawaban sendiri.
Dan yang terpenting, berani bertindak.
Kemerdekaan Dimulai dari Cara Berpikir
Lebih dari delapan dekade setelah ditulis, Madilog masih relevan.
Pesannya sederhana namun kuat.
Bangsa yang berpikir kritis akan maju.
Bangsa yang berhenti berpikir akan tertinggal.
Membaca Madilog bukan hanya memahami sejarah. Ini adalah langkah memahami bagaimana membangun masa depan yang lebih rasional, mandiri, dan kuat.
Karena kemerdekaan sejati dimulai dari pikiran. (mis/red)

