Tragedi Arakundo 1999 Luka Lama Aceh yang Belum Sembuh
![]() |
| Proses pencarian para korban pembunuhan di Jembatan Arakundo, Idi Cut, Aceh Timur, 1999 silam. [Foto: Istimewa via KontraS Aceh]. |
Aceh Timur, relasinasional.com — Tragedi Arakundo atau Tragedi Idi Cut menjadi salah satu catatan paling kelam dalam sejarah konflik Aceh. Hingga kini, peristiwa berdarah yang terjadi 3 Februari 1999 itu belum menemukan keadilan hukum, meski korban sipil berjatuhan dan bukti kekerasan tak pernah dibantah.
Peristiwa ini bukan sekadar tragedi masa lalu. Ia adalah luka kolektif yang masih terbuka, terutama bagi keluarga korban yang kehilangan tanpa kejelasan nasib.
Apa Itu Tragedi Arakundo?
Tragedi Arakundo adalah pembantaian warga sipil di Idi Cut, Kabupaten Aceh Timur, pada dini hari 3 Februari 1999.
Peristiwa ini terjadi di tengah eskalasi konflik bersenjata antara aparat keamanan dan kelompok bersenjata di Aceh pada akhir 1990-an.
Korban bukan kombatan.
Mereka adalah warga yang baru pulang dari acara dakwah.
Pemicu Awal Ketegangan
Ketegangan bermula pada akhir Desember 1998.
Beberapa personel militer dilaporkan diculik dan dibunuh oleh pihak tak dikenal. Jenazah mereka ditemukan di Sungai Arakundo.
Insiden ini memicu operasi keamanan yang agresif di wilayah Idi Cut dan sekitarnya.
Warga sipil menjadi sasaran kecurigaan.
Malam Dakwah yang Berujung Maut
Pada 2 Februari 1999 sore hingga malam, warga Idi Cut menggelar acara dakwah akbar.
Ribuan orang hadir.
Meski sempat mendapat intimidasi dari aparat, acara tetap berlangsung hingga tengah malam.
Sekitar pukul 00.45 WIB, massa mulai membubarkan diri dan pulang ke rumah masing-masing.
Di sinilah tragedi dimulai.
Tembakan di Depan Koramil
Saat warga melintas di sekitar kantor Koramil Idi Cut, aparat diduga menghadang kerumunan.
Menurut kesaksian korban selamat, awalnya terdengar lemparan batu.
Tak lama kemudian, tembakan dilepaskan secara membabi buta ke arah warga.
Panik tak terhindarkan.
Orang-orang berlarian menyelamatkan diri dalam gelap.
Sebagian jatuh tersungkur bersimbah darah.
Korban Dibuang ke Sungai
Sekitar pukul 03.00 WIB, situasi berubah semakin mencekam.
Saksi mata melihat aparat mengangkut korban, baik yang tewas maupun luka-luka, ke atas truk militer.
Beberapa korban dilaporkan diikat, dimasukkan ke dalam karung, diberi pemberat batu, lalu dibuang dari Jembatan Sungai Arakundo.
Metode ini menghilangkan jejak.
Sekaligus menghilangkan nyawa.
Pencarian dan Temuan Korban
Pada 4–5 Februari 1999, warga menyusuri Sungai Arakundo dengan alat tradisional.
Enam jenazah ditemukan dalam karung.
Satu korban lain ditemukan tewas tertembak di dalam kendaraan.
Lebih dari selusin warga dilaporkan hilang dan tak pernah kembali.
Hingga hari ini, sebagian korban tak diketahui kuburnya.
Sorotan Internasional, Nihil Pengadilan
Amnesty International memasukkan Tragedi Arakundo sebagai satu dari lima kasus pelanggaran HAM berat di Aceh yang mendesak untuk diusut.
Namun hingga lebih dari dua dekade berlalu, tak satu pun anggota aparat keamanan yang diadili.
Tak ada pengadilan.
Tak ada vonis.
Tak ada pemulihan.
Monumen Ingatan di Idi Cut
Pada 2012, Monumen Tragedi Simpang Kuala Idi Cut didirikan dengan dukungan Badan Reintegrasi Aceh (BRA).
Tujuh nama korban yang berhasil diidentifikasi diukir di sana.
Monumen ini bukan sekadar tugu.
Ia adalah pengingat bahwa negara pernah gagal melindungi warganya.
![]() |
| Tugu Tragedi Arakundo di Desa Matang Pineung, Kecamatan Darul Aman, Kabupaten Aceh Timur. [Foto: Istimewa] |
Perjuangan yang Belum Usai
Hingga kini, KontraS Aceh dan kelompok masyarakat sipil terus mengangkat kasus ini melalui pameran, diskusi, dan advokasi.
Tuntutannya sederhana namun mendasar.
Kebenaran.
Keadilan.
Dan rekonsiliasi yang bermartabat.
Tanpa itu, Tragedi Arakundo akan terus menjadi bayangan gelap dalam perjalanan demokrasi dan HAM di Aceh. (mis/red)


