BREAKING NEWS
iklan

Cegah ISPA Pascabanjir, STIKes Jabal Ghafur Hadirkan “Pojok ISPA” untuk Warga Pidie Jaya

Dosen dan mahasiswa STIKes Jabal Ghafur saat kegiatan sosialisasi program Pojok ISPA di Pidie Jaya.
Tim dosen dan mahasiswa STIKes Jabal Ghafur Sigli berfoto bersama usai kegiatan pengabdian masyarakat dan sosialisasi program “Pojok ISPA” di Gampong Rhieng Blang, Pidie Jaya.

 PIDIE — Bencana banjir tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga memicu ancaman kesehatan bagi masyarakat. Salah satu penyakit yang kerap meningkat pascabanjir adalah Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), akibat lingkungan yang lembap, kotor, dan penuh debu.


Melihat kondisi tersebut, tim dosen dan mahasiswa STIKes Jabal Ghafur Sigli, Kabupaten Pidie, mengambil langkah konkret melalui program pengabdian kepada masyarakat yang inovatif. Mereka memperkenalkan program “Pojok ISPA”, sebuah upaya pencegahan penyakit pernapasan yang dimulai dari lingkup terkecil, yakni keluarga.


Program ini resmi diluncurkan di Gampong Rhieng Blang, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya. Tujuannya adalah mendorong perubahan perilaku masyarakat agar lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan dan kesehatan pribadi setelah wilayah mereka dilanda banjir.


Ketua STIKes Jabal Ghafur, Drs. Syamsuddin, M.Kes, mengatakan program tersebut difokuskan pada peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).


Menurutnya, kondisi lingkungan pascabanjir yang lembap dan kurang higienis sangat berpotensi menjadi sumber berbagai penyakit, sehingga edukasi langsung kepada masyarakat hingga ke tingkat rumah tangga menjadi langkah yang sangat penting.


Program ini dijalankan oleh tim yang dipimpin Ns. Nurul Atikah, S.Kep., M.Kep, didampingi Ns. Masri, S.Kep., M.Kep, serta Maifrizal, S.K.M., M.K.M. Kegiatan tersebut juga melibatkan secara aktif Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STIKes Jabal Ghafur.


Dukungan terhadap program ini turut datang dari pimpinan kampus, termasuk Ketua Yayasan Kampus Jabal Ghafur T. Yasman Saputra, S.H., M.H. Selain itu, kegiatan ini juga mendapat pendanaan dari Kemdikbudristek melalui LLDIKTI Wilayah XIII Aceh, yang menunjukkan bahwa inovasi tersebut memiliki nilai akademik sekaligus manfaat sosial yang diakui secara nasional.


Nurul Atikah menjelaskan, pascabanjir risiko penularan penyakit pernapasan meningkat drastis karena kondisi udara yang lembap dan banyaknya debu yang terhirup masyarakat.


Melalui “Pojok ISPA”, setiap keluarga didorong memiliki sudut informasi kesehatan sederhana di rumah. Di dalamnya tersedia berbagai materi edukasi, seperti informasi mengenai gejala awal ISPA, panduan menjaga kebersihan rumah setelah banjir, serta langkah-langkah pencegahan penularan penyakit di lingkungan keluarga.


Kehadiran tim STIKes Jabal Ghafur disambut antusias oleh perangkat desa dan masyarakat setempat. Keuchik Gampong Rhieng Blang menyampaikan apresiasi atas kepedulian para akademisi yang turun langsung memberikan edukasi kesehatan kepada warga.


Pemerintah gampong pun berkomitmen mendukung keberlanjutan program tersebut dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari pemuda, kader kesehatan, hingga anggota PKK dalam setiap kegiatan sosialisasi.


Melalui inovasi “Pojok ISPA”, masyarakat diharapkan tidak lagi hanya bergantung pada pengobatan setelah sakit, tetapi mampu melakukan pencegahan sejak dini. Program ini sekaligus menjadi bukti bahwa kolaborasi antara dunia akademik dan masyarakat dapat menjadi benteng kuat dalam menghadapi dampak kesehatan pascabencana. (fa/red)

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image