BREAKING NEWS

Cara Algoritma Google Discover Pilih Konten untuk Pengguna

Cara kerja Google Discover menampilkan konten
Cara Algoritma Google Discover Pilih Konten untuk Pengguna.

 Jakarta — Google Discover menjadi mesin baru penggerak traffic organik bagi publisher. Diluncurkan sejak 2018, fitur ini kini dipakai lebih dari 800 juta orang tiap bulan. Bedanya dengan pencarian biasa, Discover menampilkan konten sesuai minat dan kebiasaan pengguna, bukan keyword yang diketikkan.


Google mengandalkan teknologi artificial intelligence (AI) dan machine learning untuk menentukan konten mana yang muncul di feed pengguna. Data yang dipakai bukan hanya riwayat pencarian, tapi juga aktivitas di YouTube, Gmail, Maps, dan produk Google lain.


Ada beberapa faktor utama yang memengaruhi pemilihan konten di Discover. Pertama, relevansi topik. Google memakai Natural Language Processing (NLP) untuk memahami konteks artikel sehingga sesuai dengan minat pengguna. Kedua, kredibilitas sumber. Prinsip E-E-A-T (Experience, Expertise, Authoritativeness, Trustworthiness) membuat konten dari publisher bereputasi lebih diprioritaskan.


Faktor lain adalah kualitas visual dan teknis. Gambar resolusi tinggi dan format yang mobile-friendly meningkatkan peluang konten muncul. Aktualitas juga berperan, karena Google lebih menyukai artikel baru atau yang sering diperbarui. Terakhir, semua konten harus patuh pada kebijakan Google agar bebas dari spam, hoaks, dan pelanggaran hak cipta.


Dampaknya, traffic dari Google Discover bisa sangat signifikan. Data Search Engine Journal menyebutkan kontribusinya bisa mencapai 20–40% dari total traffic organik media digital. Engagement juga lebih tinggi, dengan durasi baca lebih lama dan rasio klik lebih besar.


Kasus RollerAds menunjukkan potensi ini. Setelah fokus pada konten berkualitas tinggi sesuai minat pengguna, pendapatan platform itu melonjak dari nol hingga US$60 ribu per bulan hanya lewat traffic Discover.


Bagi publisher, ada beberapa strategi penting untuk bisa masuk ke Discover. Konten harus mengutamakan kualitas dan kredibilitas. Visual sebaiknya berukuran minimal 1200 piksel, ditambah video relevan untuk menarik perhatian. Artikel evergreen yang rutin diperbarui juga lebih tahan lama di feed. Metadata—judul dan deskripsi—harus jelas, singkat, dan menarik klik.


“Google menempatkan nilai sangat tinggi pada prinsip E-E-A-T. Oleh karena itu, pastikan konten dibuat oleh penulis atau berasal dari sumber yang memiliki otoritas dan keahlian di bidangnya,” tulis Search Engine Journal.


Untuk mengecek apakah konten sudah masuk Discover, publisher bisa memanfaatkan Google Search Console. Caranya, login, pilih properti website, lalu buka menu “Discover” di sidebar kiri. Di sana akan terlihat daftar URL yang tayang, jumlah klik, impresi, hingga CTR. Jika menu itu tidak tersedia, artinya belum ada konten yang masuk.


Ke depan, Google Discover diprediksi semakin canggih. Integrasi augmented reality (AR) dan virtual reality (VR) berpotensi jadi bagian pengalaman Discover. Personalisasi lokal dan minat spesifik juga akan lebih menonjol, membuat feed setiap orang benar-benar berbeda.


Dengan potensi besar ini, Google Discover menjadi ladang baru bagi content creator dan digital marketer. Fokus pada kualitas, kredibilitas, dan pembaruan konten berkala adalah kunci agar publisher bisa mendulang traffic dari fitur ini.

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image