BREAKING NEWS

Misteri Nama Bireuen Kota Juang yang Penuh Cerita

Tugu Juang Bireuen sebagai simbol semangat perjuangan masyarakat Aceh
Tugu Juang, ikon kebanggaan masyarakat Kabupaten Bireuen yang melambangkan semangat perjuangan. [Foto: instagram.com/hidayatullah_mn]

 Bireuen — Kabupaten Bireuen di Aceh bukan sekadar daerah administratif biasa. Resmi berdiri sebagai kabupaten otonom sejak 12 Oktober 1999 setelah dimekarkan dari Aceh Utara, wilayah ini dikenal luas dengan julukan Kota Juang. Sebutan itu melekat karena Bireuen sempat jadi salah satu basis perlawanan, baik di masa perjuangan melawan Belanda maupun dalam konflik bersenjata Gerakan Aceh Merdeka (GAM).


Situasi Bireuen sempat mencekam saat darurat militer diberlakukan pada Mei 2003. Namun, seiring waktu, kehidupan perlahan kembali normal meski butuh proses panjang. Kini, Bireuen tumbuh menjadi pusat aktivitas ekonomi dan pendidikan di pesisir timur Aceh, tetap menyimpan jejak sejarah yang tak bisa dihapus.


Jika menengok ke belakang, Bireuen punya catatan panjang. Belanda baru benar-benar menguasai Aceh secara de facto pada 1904 setelah jatuhnya benteng Kuta Glee di Batee Iliek, wilayah yang kini masuk Kecamatan Samalanga. Kemudian, melalui keputusan pemerintah kolonial pada 7 September 1934, Aceh dibagi menjadi enam afdeeling atau setingkat kabupaten. Salah satunya Afdeeling Noord Kust van Aceh, yang dipecah lagi menjadi tiga onder afdeeling, termasuk Bireuen.


Namun jauh sebelum itu, nama Bireuen sudah dikenal. Daerah ini strategis sekaligus indah, jadi titik penting dalam jalur perdagangan dan perjalanan raja. Dari sinilah muncul perdebatan soal asal-usul nama "Bireuen" yang hingga kini masih menyimpan misteri.


Ada setidaknya tiga kisah turun-temurun yang dipercaya menjadi asal nama Bireuen. Versi pertama dikenal sebagai Biruweung. Cerita ini merujuk pada perintah pengawal Sultan Iskandar Muda ketika sang raja melintas dengan gajah kebesarannya. "Biruweung! Raja geuneuk lewat," teriak pengawal, yang berarti rakyat diminta membuka jalan. Dari kebiasaan ini, kata "Biruweung" dipercaya bergeser menjadi "Bireuen".


Versi kedua datang dari cerita pasar hewan di masa lampau. Konon, setiap transaksi di pasar itu harus dibayar tunai, tanpa utang. Karena itu, muncullah istilah "Biren" yang berarti bayar cash, yang lama-kelamaan berubah jadi Bireuen.


Versi ketiga disebut paling dekat dengan kebenaran. Kata birrun dalam bahasa Arab berarti kebajikan. Dikisahkan, saat Belanda berhasil menguasai sebagian wilayah Aceh, mereka memindahkan keturunan Arab dari Pante Gajah ke Cot Hagu, dekat Kuala Raja. Warga Arab itu menggelar kenduri kecil dan menjamu pasukan Belanda. Perjamuan itu disebut "birrun", yang membuat Belanda ikut menyebut daerah itu demikian. Seiring waktu, "birrun" pun bertransformasi menjadi nama Bireuen.


Kini, jejak sejarah itu masih terasa. Pendopo Bupati Bireuen yang berdiri kokoh disebut-sebut sebagai lokasi pertama kali perjamuan "birrun" berlangsung. Dari kisah inilah lahir nama yang akhirnya melekat kuat hingga sekarang.


Bireuen bukan hanya menyimpan cerita perang dan konflik, tapi juga menyimpan memori tentang budaya, bahasa, dan nilai kebajikan. Julukan Kota Juang seakan jadi pengingat bahwa daerah ini lahir dari semangat perlawanan sekaligus doa kebaikan yang diwariskan turun-temurun.

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image