Permadani Tuban Genjot Pelatihan MC Bahasa Jawa
![]() |
| Pengurus Permadani Tuban mengikuti dialog interaktif membahas pelestarian budaya Jawa di studio LPPL Radio Pradya Suara Tuban. [Infopublik.id/Yeni/Mc.Tuban] |
Tuban, relasinasional.com — Permadani Kabupaten Tuban terus mendorong pelestarian budaya Jawa lewat Pawiyatan Panatacara Tuwin Pamedhar Sabda, pelatihan pembawa acara dan pidato berbahasa Jawa yang digelar rutin setiap tahun. Ketua DPD Permadani Tuban, Indah Sri Hari Peni, menegaskan kegiatan ini sebagai upaya menjaga jati diri budaya di tengah derasnya modernisasi.
“Menjaga kebudayaan dan tradisi adalah tanggung jawab bersama. Ini merupakan bentuk tanggung jawab moral untuk menjaga jati diri bangsa,” ujar Indah, dikutip Infopublik.id.
Indah menjelaskan, pawiyatan tidak sekadar melatih kemampuan panatacara yang memahami pakem Jawa, tetapi juga memastikan budaya tetap lestari dan ngrembaka. “MC adalah ujung tombak yang bisa menularkan nilai-nilai budaya kepada masyarakat,” katanya dalam dialog di LPPL Radio Pradya Suara Tuban.
Ia mendorong pemerintah dan institusi pendidikan memasukkan materi budaya ke kurikulum sekolah. Festival budaya juga dinilai penting untuk menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap tradisi lokal. “Semuanya harus ikut menjaga, karena budaya adalah identitas bangsa. Jangan sampai tergerus budaya luar,” ujarnya.
Program pelatihan Permadani Tuban diikuti peserta lintas usia, dari pelajar sekolah dasar hingga lanjut usia. Total pembelajaran mencapai 100 jam yang ditempuh dalam enam hingga tujuh bulan, dilengkapi wisata budaya. Materi yang diajarkan mencakup seni busana, padhuwungan (keris), sastra Jawa, adat kelahiran hingga kematian, budi pekerti, tata krama, dan renggeping wicara.
“Hingga kini, banyak alumni Permadani Tuban yang aktif berkiprah di masyarakat dan turut nguri-uri budaya Jawa,” ungkapnya.
Setelah pelatihan, Permadani membentuk paguyuban antarsiswa melalui bregada sebagai wadah penguatan solidaritas dan penerapan nilai Triniti Yogya serta Tri Rukun (rukun rasa, bandha, bala).
Sementara itu, Nanang Ferianto atau Nanang Cakra Ningrat menegaskan pentingnya memperkuat niat dalam menjaga budaya Jawa, terutama bagi para pendidik dan pelaku budaya. “Pengenalan budaya bisa dikemas menarik agar generasi muda tertarik, misalnya melalui pengenalan batik, mulai dari jenis, motif, hingga filosofinya,” ujar CEO Cakra Ningrat Management tersebut.
Ia menekankan pentingnya memegang pakem budaya tanpa meninggalkan muatan lokal. “Yang pakem tetap kita pegang, tapi muatan lokal jangan ditinggalkan. Intinya, kita harus bisa memposisikan diri,” katanya.
Nanang juga mengajak generasi muda tidak malu mencintai budaya sendiri. “Kita harus bangga menjadi bagian dari budaya Indonesia, khususnya Jawa. Jangan lebih membanggakan budaya asing sebelum mengenal budaya kita sendiri,” pesannya.
Dalam dialog tersebut, keduanya turut mengulas sejumlah pakem adat Jawa, terutama dalam prosesi pernikahan. (mis/red)

