BREAKING NEWS

7 Saham Panas Awal 2026, Gelombang Merger Mulai Mengguncang

saham panas awal 2026 akibat aksi merger dan akuisisi emiten di pasar modal Indonesia
Ilustrasi

 Jakarta, relasinasional.com — Awal 2026 langsung diwarnai panasnya pasar saham Indonesia seiring maraknya aksi merger dan akuisisi (M&A) yang melibatkan sejumlah emiten lintas sektor, mulai dari energi, tambang, hingga ritel dan teknologi. Aksi korporasi ini terjadi dalam beberapa pekan pertama Januari 2026 dan dinilai berpotensi menggerakkan harga saham secara signifikan dalam jangka pendek. Investor pun mulai mencermati emiten-emiten yang tengah menjalani transformasi bisnis atau melepas aset strategis.


PT Pelayaran Nelly Dwi Putri Tbk (NELY) menjadi salah satu saham yang paling banyak dibicarakan setelah muncul kabar rencana akuisisi bernilai hingga Rp2 triliun. Nilai tersebut hampir dua kali lipat dari kapitalisasi pasar perseroan saat ini, sehingga memicu spekulasi kuat di pasar. Manajemen NELY pada 8 Januari 2026 membantah angka transaksi tersebut, namun mengonfirmasi adanya penjajakan awal dengan mitra strategis yang masih bersifat non-binding.


Pergerakan tak kalah agresif dilakukan PT Harta Djaya Karya Tbk (MEJA) yang bersiap mengakuisisi 45 persen saham PT Trimata Coal Perkasa senilai Rp1,6 triliun. Langkah ini menandai perubahan drastis bisnis MEJA dari sektor interior menuju tambang batu bara. Trimata diketahui memiliki konsesi seluas 11.640 hektare di Sumatera Selatan dengan cadangan batu bara yang dinilai ekonomis untuk jangka panjang.


Sementara itu, PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) kian mendekati penyelesaian penjualan tambang emas Doup kepada PT United Tractors Tbk (UNTR). Tenggat transaksi diperpanjang hingga 23 Maret 2026 dengan nilai enterprise mencapai US$540 juta. Transaksi ini diproyeksikan memberikan suntikan dana besar bagi PSAB sekaligus memperbaiki struktur keuangan perseroan pada kuartal pertama 2026.


Di sektor energi, PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) menunjukkan ekspansi agresif dengan membidik berbagai aset strategis, termasuk perusahaan pelayaran pengangkut LNG, terminal LNG di Banten, serta investasi hilir migas di Indonesia Timur. RAJA juga mulai masuk ke energi baru terbarukan melalui rencana akuisisi pembangkit listrik tenaga air dan biomassa, memperkuat posisinya sebagai pemain infrastruktur energi terintegrasi.


Cerita berbeda datang dari PT Agung Menjangan Mas Tbk (AMMS) yang resmi berganti kendali pada akhir 2025 setelah diambil alih Radiant Ruby Company Ltd. Akuisisi dilakukan di harga Rp30 per saham, jauh di bawah harga pasar saat ini. Di bawah pemilik baru yang terafiliasi dengan ekosistem Web3, AMMS diarahkan masuk ke bisnis edukasi aset digital dan blockchain, dengan rencana tender offer yang dijadwalkan berlangsung pada Januari 2026.


PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) juga mencatatkan aksi strategis dengan melepas bisnis teh Sariwangi kepada PT Savoria Kreasi Rasa yang terafiliasi Grup Djarum. Nilai transaksi mencapai Rp1,5 triliun dan meski kontribusi bisnis teh relatif kecil terhadap laba, pencatatan keuntungan penjualan ini berpotensi mengerek laba bersih UNVR pada 2026.


Dari sektor ritel, PT Multitrend Indo Tbk (BABY) memperkuat lini mainan anak dengan mengakuisisi PT Emway Globalindo senilai Rp269,9 miliar melalui rights issue. Akuisisi distributor merek global seperti Hot Wheels dan Fisher-Price ini dinilai menciptakan sinergi vertikal yang dapat memperbaiki margin dan efisiensi distribusi perseroan ke depan.


Gelombang M&A di awal 2026 ini mencerminkan strategi korporasi dalam menghadapi tantangan ekonomi global sekaligus membuka peluang pertumbuhan baru. Bagi investor, dinamika ini menjadi katalis penting yang layak dicermati, terutama menjelang agenda RUPS, tender offer, dan aksi korporasi lanjutan yang berpotensi memicu volatilitas pasar. (mis/red)

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image