Bongkar Propaganda Politik, Dr. Teuku Rasyidin: Ada Aktor di Balik Layar yang Targetkan Mualem
![]() |
| Dr. Teuku Rasyidin, SH., MH. [Foto: Ist] |
BANDA ACEH — Akademisi sekaligus politisi Aceh, Dr. Teuku Rasyidin, SH., MH, mengingatkan masyarakat untuk lebih kritis dalam menyikapi berbagai narasi miring terkait kepemimpinan Muzakir Manaf (Mualem) yang belakangan ini gencar beredar di ruang publik. Ia menilai bahwa rentetan isu tersebut bukanlah sekadar dinamika opini biasa, melainkan indikasi kuat adanya propaganda politik terstruktur yang bertujuan membentuk persepsi negatif terhadap kepemimpinan Mualem.
Menurut Teuku Rasyidin, dalam lanskap politik modern, arena pertarungan tidak lagi sebatas adu kebijakan di panggung formal, melainkan perebutan pengaruh di ruang persepsi. Media, opini, dan percakapan publik sering kali dijadikan alat utama untuk membangun citra sekaligus melemahkan legitimasi seorang pemimpin. Ia menegaskan bahwa ketika pengaruh seorang figur seperti Mualem masih sangat kuat di tengah masyarakat, maka produksi narasi tandingan menjadi strategi utama untuk menggerus kepercayaan publik.
"Dalam politik modern, yang diserang bukan hanya kebijakan, tetapi persepsi publik terhadap kepemimpinan. Jika persepsi masyarakat berhasil diganggu, maka legitimasi kekuasaan secara otomatis akan ikut tergerus," jelas Teuku Rasyidin.
Salah satu pola propaganda yang ia soroti adalah upaya membangun narasi seolah-olah akan terjadi pergantian kepemimpinan dalam pemerintahan. Narasi ini biasanya digiring melalui spekulasi liar mengenai kondisi kesehatan pimpinan daerah atau isu adanya pergeseran kekuasaan. Padahal, Teuku Rasyidin menegaskan bahwa kondisi kesehatan Mualem saat ini baik-baik saja dan komunikasi politik di internal pemerintahan berjalan sangat normal.
Selain itu, ia juga mengungkap teknik propaganda lain yang kerap digunakan dalam konflik elite politik, yaitu menciptakan kesan adanya kekosongan kekuasaan. Narasi ini sengaja dilempar ke ruang publik untuk memicu spekulasi bahwa kepemimpinan sedang melemah, padahal realitas pemerintahan berjalan stabil sebagaimana mestinya. Ia juga menyayangkan adanya pola klasik strategi delegitimasi yang mencoba membenturkan gubernur dan wakil gubernur dalam wacana publik demi menciptakan kesan bahwa pemerintahan tidak solid.
Teuku Rasyidin meyakini bahwa narasi yang terus diulang di ruang publik tersebut bukanlah opini spontan dari masyarakat, melainkan sebuah konstruksi politik yang diproduksi oleh aktor-aktor tertentu di balik layar. Strategi semacam ini biasanya digunakan ketika kekuatan politik tertentu tidak mampu menantang kepemimpinan secara langsung di lapangan.
"Ada aktor politik yang bermain dari balik tirai, memproduksi narasi yang tampak seperti opini publik, padahal sebenarnya merupakan konstruksi propaganda. Ketika kekuasaan tidak mudah digoyang secara politik, maka yang diganggu adalah persepsi publik melalui permainan narasi di media," pungkasnya.

