Dari Tagihan Siluman ke Aplikasi Pintar: Menyaksikan Transformasi Digital Tirta Raja di Baturaja
![]() |
| Foto: Ayu Larasati |
BATURAJA — Seorang ibu di Baturaja kini terbiasa memulai hari dengan membuka aplikasi di ponselnya. Bukan untuk media sosial, bukan pula untuk sekadar melihat berita. Ia membuka portal pelanggan Tirta Raja, memeriksa grafik pemakaian air harian, tersenyum puas melihat angka yang wajar, lalu bergegas ke dapur menyalakan keran. Adegan sederhana ini adalah revolusi sunyi yang tak terbayangkan lima tahun lalu, saat membuka amplop tagihan PDAM lebih menegangkan daripada membuka lembar ujian, karena angka di dalamnya bisa melonjak tanpa sebab, seperti hantu yang tak kasat mata.
Transformasi Perumda Tirta Raja menjadi Smart Water Company bukanlah proyek kosmetik. Ini adalah revolusi struktural yang dimulai dari "meja kerja" Bupati OKU, H. Teddy Meilwansyah. Visi beliau sederhana namun radikal: mengubah perusahaan daerah yang dulunya diibaratkan "rumah buruk tak terawat" menjadi entitas modern yang cerdas dan transparan.
Data menunjukkan perubahan signifikan. Jika dulu distribusi air keruh adalah keluhan harian, memaksa ibu-ibu di perumahan terpaksa merogoh kocek lebih dalam untuk membeli air galon, hanya demi memastikan nasi yang mereka tanak terbebas dari rasa khawatir akan bau lumpur atau endapan kuning, kini Tirta Raja justru menorehkan penghargaan nasional atas kualitas pelayanannya.
Namun, masalah tak berhenti di kekeruhan air. Momok lain yang tak kalah menakutkan adalah "tagihan siluman". Tanpa pemberitahuan, tanpa penjelasan, angka di kertas tagihan bisa melonjak dua kali lipat. Ibu-ibu di kompleks perumahan kerap dilanda kegelisahan setiap akhir bulan. Mereka saling bertanya dengan nada cemas, "Bu, bulan ini berapa tagihan Ibu? Kok saya tiba-tiba tembus lima ratus ribu?" Kecurigaan pun merebak pada meteran yang dianggap rusak, pada petugas yang dituduh manipulasi, bahkan pada tetangga sendiri yang dicurigai "menyedot" saluran. Ketidakpercayaan itu adalah kebocoran sosial yang lebih mahal daripada kebocoran pipa.
Teknologi Smart Water yang kini diterapkan Tirta Raja menjawab semua kecurigaan itu. Sistem digital memungkinkan deteksi kebocoran secara real-time, sekaligus mencatat pemakaian air setiap pelanggan secara presisi. Tak ada lagi ruang bagi angka-angka siluman. Jika dulu perselisihan tagihan berlarut-larut hingga ke meja direksi, kini setiap pelanggan bisa memantau pemakaian harian mereka melalui gawai masing-masing. Transparansi itu memulihkan kepercayaan.
Secara teoritis, langkah Bupati Teddy adalah bentuk nyata dari _Techno socio entrepreneurship_ . Beliau tidak hanya membeli alat, tapi membangun ekosistem digital yang merombak total budaya birokrasi. Dengan belajar dari kesuksesan pengelolaan air di daerah lain seperti Malang, Tirta Raja mengadopsi sistem yang memangkas birokrasi manual sekaligus menutup celah manipulasi data. Hasilnya bukan hanya efisiensi operasional bagi perusahaan, tapi "ketenangan pikiran" bagi pelanggan. Dalam bahasa kebijakan publik, ini adalah good governance yang tidak hanya tertulis di dokumen, tapi terasa di dapur-dapur warga.
Perjalanan menuju digitalisasi total memang masih panjang. Masih ada segelintir warga lanjut usia yang perlu didampingi mengoperasikan aplikasi. Namun tonggak sejarah telah ditancapkan di Bumi Sebimbing Sekundang. Pada akhirnya, Smart Water bukan hanya tentang sensor canggih atau aplikasi di ruang kendali. Ia adalah tentang martabat warga yang tidak perlu lagi mengantre air, dan tentang kejujuran sebuah perusahaan yang berani mempertanggungjawabkan setiap tetes airnya melalui angka-angka digital yang akurat. Di Baturaja, masa depan itu kini mengalir langsung dari keran-keran rumah mereka dan bisa dicek kapan saja, cukup dari genggaman tangan. (Ayu Larasati)

