Edi Obama, Dari Dunia Usaha hingga Politik Bireuen
![]() |
| Edi Obama menyampaikan pidato setelah terpilih sebagai Ketua DPC PPP Kabupaten Bireuen. [Foto: dok. Istimewa] |
Relasi Nasional | Bireuen - Edi Saputra, yang lebih dikenal dengan sapaan Edi Obama, memiliki perjalanan yang melintasi sejumlah ruang kehidupan masyarakat Bireuen, mulai dari dunia usaha, kegiatan kemanusiaan hingga politik.
Jejaring yang terbentuk dari berbagai aktivitas tersebut menjadi modal sosial bagi Edi Obama dalam membangun komunikasi dengan beragam kelompok di Kabupaten Bireuen.
Ia dikenal sebagai pengusaha, aktif dalam kegiatan kemanusiaan melalui Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Bireuen, serta kini dipercaya memimpin Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Kabupaten Bireuen.
Dari Dunia Usaha hingga Kemanusiaan
Perjalanan Edi Obama di Bireuen antara lain dibangun melalui dunia usaha. Aktivitasnya dalam bisnis ritel mempertemukannya dengan konsumen, pekerja dan pelaku ekonomi dari berbagai latar belakang.
Namun, ruang pengabdiannya tidak berhenti di sektor usaha. Edi juga lama terlibat dalam kegiatan kemanusiaan melalui PMI Kabupaten Bireuen.
Pada Juli 2026, ia kembali dipercaya memimpin PMI Bireuen untuk periode 2026–2031. Kepercayaan itu diberikan secara aklamasi setelah 17 pengurus ranting PMI tingkat kecamatan menyatakan dukungan dalam Musyawarah Kabupaten VI PMI Bireuen.
Aktivitas kemanusiaan memberikan ruang interaksi yang berbeda. Dalam situasi tersebut, hubungan dengan masyarakat dibangun bukan semata berdasarkan latar belakang sosial atau pilihan politik, melainkan melalui kepedulian dan kebutuhan untuk membantu sesama.
Masuk ke Panggung Politik Bireuen
Langkah Edi Obama di politik Bireuen semakin terlihat setelah dirinya terpilih sebagai Ketua DPC PPP Kabupaten Bireuen melalui Musyawarah Cabang VI pada April 2026.
Dalam pidato perdananya setelah terpilih, Edi menyebut PPP sebagai rumah besar bagi aspirasi umat dan menegaskan bahwa jabatan tersebut merupakan amanah hasil musyawarah.
Posisi itu membawa tanggung jawab yang berbeda dibandingkan dunia usaha dan kegiatan kemanusiaan. Sebagai pimpinan partai, ia dituntut menjaga konsolidasi internal sekaligus membuka komunikasi dengan masyarakat dan kelompok di luar partai.
Ruang politik juga mempertemukan kepentingan yang lebih beragam. Karena itu, kemampuan menjaga hubungan ketika terjadi perbedaan menjadi salah satu tantangan penting bagi seorang pemimpin organisasi politik.
Merangkul Bukan Berarti Harus Sepakat
Gagasan tentang figur yang mampu merangkul berbagai kalangan tidak seharusnya dimaknai sebagai keharusan untuk selalu menyamakan pandangan.
Dalam demokrasi, perbedaan pilihan merupakan sesuatu yang wajar. Yang menjadi ukuran justru bagaimana komunikasi tetap dijaga ketika pilihan politik tidak sama.
“Merangkul bukan berarti harus selalu sepakat, tetapi mampu tetap duduk bersama, menjaga komunikasi, dan menghargai perbedaan demi kepentingan masyarakat.” kata Edi Obama kepada Relasi Nasional, Senin (10/8/2026).
Kalimat tersebut menjadi gambaran sederhana mengenai tantangan kepemimpinan inklusif. Kemampuan membangun hubungan tidak hanya diuji ketika berada dalam kesamaan pandangan, tetapi justru ketika berhadapan dengan perbedaan.
Dalam perjalanan politiknya, Edi Obama pernah menyatakan dukungan kepada pasangan H. Mukhlis dan H. Razuardi dalam Pilkada Bireuen 2024. Sikap tersebut merupakan bagian dari pilihan politik dalam sebuah kontestasi demokrasi.
Namun, ketika seseorang dipercaya memimpin organisasi yang memiliki anggota dan simpatisan dengan latar belakang berbeda, tanggung jawabnya menjadi lebih luas. Ia perlu mampu menjadi penghubung sekaligus menjaga ruang komunikasi dengan berbagai kelompok.
Modal Sosial dari Tiga Ruang
Jika melihat perjalanan Edi Obama, terdapat setidaknya tiga ruang yang membentuk jejaring sosialnya, yakni dunia usaha, kegiatan kemanusiaan dan politik.
Dunia usaha mempertemukannya dengan masyarakat dalam aktivitas ekonomi. Kegiatan kemanusiaan memperluas interaksi dengan relawan dan penerima manfaat. Sementara politik membawanya berhadapan dengan kader, tokoh masyarakat serta kelompok kepentingan yang lebih beragam.
Ketiga ruang tersebut memiliki karakter berbeda. Karena itu, pengalaman berinteraksi di dalamnya dapat menjadi modal komunikasi ketika seseorang harus berhadapan dengan masyarakat yang memiliki kebutuhan, kepentingan dan pandangan yang tidak selalu sama.
Jejaring itu pula yang membuat nama Edi Obama tidak hanya muncul dalam pembicaraan mengenai PPP, tetapi juga dalam kegiatan kemanusiaan dan kehidupan sosial masyarakat Bireuen.
Tantangan Membuktikan Politik Inklusif
Meski demikian, luasnya jaringan sosial belum otomatis membuktikan bahwa seseorang mampu merangkul semua kalangan. Ukuran yang lebih penting adalah konsistensi dalam memperlakukan orang yang memiliki pandangan berbeda.
Posisi Edi Obama sebagai Ketua DPC PPP Bireuen dan kepercayaan untuk kembali memimpin PMI Bireuen juga menghadirkan dua tanggung jawab dengan karakter berbeda.
Di PMI, orientasi utamanya berada pada kegiatan kemanusiaan. Sementara di partai politik, ia membawa mandat organisasi dan perjuangan politik.
Keduanya membutuhkan satu fondasi yang sama, yakni kepercayaan. Kepercayaan tidak terbentuk hanya melalui jabatan, tetapi melalui konsistensi, cara berkomunikasi dan kemampuan menghadapi perbedaan.
Edi Obama dan Politik Bireuen ke Depan
Terpilihnya Edi Obama memimpin PPP Bireuen membuat kiprahnya dalam politik lokal ke depan menarik untuk diperhatikan. Ia telah menyatakan target memperkuat PPP dan meningkatkan perolehan kursi legislatif pada pemilu mendatang.
Target politik tersebut menjadi salah satu pekerjaan rumah organisasi. Namun, tantangan lainnya adalah bagaimana membangun pola komunikasi yang terbuka dengan masyarakat dan kelompok yang memiliki pilihan berbeda.
Figur yang mampu merangkul berbagai kalangan bukan selalu orang yang mendapatkan persetujuan dari semua pihak. Justru, kemampuan untuk tetap berkomunikasi ketika terjadi perbedaan menjadi ukuran yang lebih penting.
Bagi Edi Obama, modal tersebut telah terbentuk dari perjalanan di dunia usaha, kemanusiaan dan politik. Namun, apakah modal sosial itu benar-benar dapat berkembang menjadi kepercayaan masyarakat Bireuen secara lebih luas, akan sangat bergantung pada konsistensi dalam menjalankan amanah dan menjaga komunikasi ke depan. (*)

Posting Komentar