Endatoe Academy Ajak Pemuda Aceh Perkuat Kesiapsiagaan Bencana
![]() |
| Foto: HO/RN |
Relasi Nasional | Banda Aceh - Endatoe Foundation melalui unit edukasinya, Endatoe Academy, menggelar webinar mitigasi bencana Aceh secara daring pada Selasa (6/10) malam untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi cuaca ekstrem dan ancaman bencana alam. Kegiatan bertajuk Endatoe Talk Series ini menghadirkan peneliti Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) Universitas Syiah Kuala (USK), Muhammad Arifin, sebagai narasumber utama.
Webinar bertema "Jurus Lengkap Mitigasi Bencana Aceh: Fisiknya Kuat, Kebijakannya Mantap, Warganya Siap!" tersebut berlangsung melalui Zoom Meeting dan diikuti berbagai elemen masyarakat, terutama kalangan pemuda Aceh. Kegiatan dipandu oleh Furqan, relawan Endatoe Foundation.
Penyelenggaraan webinar ini didukung Relawan Rumah Zakat Bireuen, Nusantara Giving Initiative, Global Meutuah Foundation, serta Seuramo Hijau Nusantara.
Dalam pemaparannya, Muhammad Arifin menjelaskan bahwa bencana dapat mengancam kehidupan masyarakat melalui berbagai faktor, mulai dari fenomena alam seperti gempa bumi, tsunami, banjir, dan tanah longsor hingga kejadian nonalam, seperti kegagalan teknologi dan wabah penyakit, serta faktor manusia.
Ia memaparkan tiga fase utama penanggulangan bencana yang perlu dipahami masyarakat. Fase prabencana mencakup pencegahan, mitigasi, dan kesiapsiagaan; fase saat bencana berfokus pada tanggap darurat; sedangkan fase pascabencana meliputi pemulihan, rehabilitasi, dan rekonstruksi sosial-ekonomi.
Materi webinar juga membahas pengurangan risiko bencana (PRB), yang berkaitan dengan tingkat ancaman, kerentanan, dan kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana. Peningkatan kapasitas menjadi salah satu upaya untuk menekan risiko dan mengurangi dampak terhadap penduduk maupun lingkungan.
Mitigasi struktural dapat dilakukan melalui pembangunan fisik dan pemanfaatan teknologi, seperti penerapan standar bangunan tahan gempa, penyediaan jalur evakuasi, serta penguatan sistem peringatan dini atau early warning system.
Sementara itu, mitigasi nonstruktural dilakukan melalui edukasi, regulasi, dan kebijakan. Bentuknya antara lain simulasi bencana secara berkala, sosialisasi kesiapsiagaan, penyusunan tata ruang berbasis risiko bencana, serta penegakan aturan tata bangunan.
Arifin juga mengangkat pentingnya pendekatan Pentahelix dalam penanggulangan bencana. Model kolaborasi ini melibatkan lima unsur, yakni pemerintah, akademisi atau pakar, masyarakat dan komunitas, dunia usaha, serta media massa.
Kolaborasi lintas sektor tersebut dibahas dalam konteks penanggulangan bencana berdasarkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Keterlibatan berbagai pihak diperlukan dalam upaya memperkuat kesiapsiagaan dan mengurangi risiko bencana.
Melalui kegiatan bersama para mitra kolaborasi, Endatoe Foundation berharap pemahaman dan kapasitas masyarakat Aceh dalam menghadapi bencana dapat terus meningkat secara berkelanjutan. (*)

Posting Komentar