BREAKING NEWS

Review One Night Only Usung Ide Berani, tetapi Romcom Distopianya Belum Meyakinkan

Poster film One Night Only menampilkan Monica Barbaro dan Callum Turner dalam romcom berlatar dunia distopia.
Poster film One Night Only. [Foto: dok. Istimewa]

 Relasi Nasional | Jakarta - Film One Night Only hadir dengan premis yang jarang ditemui di genre komedi romantis. Kisahnya membawa penonton ke dunia distopia, di mana pemerintah hanya mengizinkan hubungan seks bagi warga lajang selama 12 jam dalam satu malam setiap tahun.


Cerita kemudian mengikuti Owen yang diperankan Callum Turner dan Allie yang dimainkan Monica Barbaro. Keduanya bertemu di New York City saat aturan tersebut memengaruhi kehidupan masyarakat dan cara mereka membangun hubungan.


Pada awalnya, konsep itu menjanjikan konflik yang kuat. Latar dunia yang penuh pembatasan membuka peluang untuk mengeksplorasi isu kebebasan pribadi dan kontrol negara terhadap kehidupan warganya.


Namun, film justru lebih banyak mengarahkan cerita ke formula komedi romantis yang ringan. Alhasil, nuansa distopia yang menjadi daya tarik utama hanya muncul sebagai latar, bukan sebagai konflik yang berkembang secara mendalam.


Selain dua pemeran utama, One Night Only juga menghadirkan sejumlah penampilan kameo dari Julia Fox, Pete Davidson, Molly Ringwald, dan beberapa nama lainnya. Kehadiran mereka memberi variasi, meski tidak banyak memengaruhi jalannya cerita.


Sementara itu, naskah karya Travis Braun dinilai belum mampu memaksimalkan potensi dari ide besarnya. Film lebih memilih jalur aman sebagai romcom arus utama dibanding menggali konsekuensi dari dunia yang dibangunnya.


Meski demikian, kualitas produksinya tetap tampil solid dengan visual yang rapi dan penyutradaraan yang konsisten. Secara keseluruhan, One Night Only menawarkan konsep yang segar, tetapi eksekusinya belum sepenuhnya mampu memenuhi ekspektasi. (*)

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image