Iklan - Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Jangan Asal Pinjam, Ini Cara Memilih Pinjaman Usaha yang Tepat untuk UMKM

Jangan asal pinjam. Simak cara memilih pinjaman usaha untuk UMKM dengan mempertimbangkan bunga, tenor, agunan, dan kemampuan bayar.

Jangan Asal Pinjam, Ini Cara Memilih Pinjaman Usaha yang Tepat untuk UMKM
Kenali jenis pinjaman usaha dan cara memilih pembiayaan yang sesuai kebutuhan UMKM. [Foto: Ilustrasi]

Relasi Nasional | Jakarta - Pinjaman usaha bisa menjadi modal penting untuk mengembangkan bisnis. Namun, keputusan mengambil pembiayaan tidak seharusnya hanya didasarkan pada jumlah dana yang ditawarkan atau kecepatan pencairannya.

Bunga, biaya pembiayaan, tenor, agunan, persyaratan, dan kemampuan membayar cicilan perlu diperhitungkan terlebih dahulu. Kesalahan memilih pinjaman dapat membebani arus kas dan mengganggu operasional usaha.

Bagi pelaku UMKM, tersedia sejumlah pilihan pembiayaan. Mulai dari Kredit Usaha Rakyat (KUR), pembiayaan syariah, kredit bank swasta, Pegadaian, koperasi simpan pinjam, hingga fintech P2P lending.

Setiap pilihan memiliki karakteristik berbeda. Karena itu, pinjaman yang cocok untuk satu jenis usaha belum tentu sesuai untuk bisnis lainnya.

KUR Bisa Menjadi Pilihan untuk Modal UMKM

Kredit Usaha Rakyat atau KUR merupakan salah satu alternatif pembiayaan yang banyak digunakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah.

Program ini disalurkan melalui sejumlah bank Himbara, seperti Bank BRI, Bank Mandiri, dan Bank BNI. Dalam sumber, bunga KUR disebut berada di angka 6 persen per tahun dengan plafon mulai Rp1 juta hingga Rp500 juta.

Persyaratan umum yang disebut antara lain WNI berusia minimal 21 tahun atau sudah menikah, memiliki usaha aktif setidaknya enam bulan, serta mempunyai NIB atau SKU.

Calon penerima juga tidak sedang menerima kredit produktif lain. Untuk pinjaman di bawah Rp100 juta, umumnya tidak diperlukan agunan tambahan.

Dengan biaya pembiayaan yang relatif ringan, KUR dapat dipertimbangkan oleh UMKM yang membutuhkan modal untuk mengembangkan kegiatan usaha dan tidak membutuhkan pencairan secara instan.

Pembiayaan Syariah untuk UMKM

Bagi pelaku usaha yang memilih mekanisme pembiayaan sesuai prinsip syariah, tersedia alternatif melalui Bank Syariah Indonesia.

Skema pembiayaan dapat menggunakan akad murabahah, ijarah, atau musyarakah. Dalam sumber, margin pembiayaannya disebut setara sekitar 6 persen per tahun.

Selain memenuhi persyaratan pembiayaan, usaha yang diajukan harus halal dan memenuhi ketentuan syariah.

Pilihan tersebut dapat menjadi alternatif bagi pelaku UMKM yang ingin memperoleh modal dengan mekanisme pembiayaan syariah.

Kapan Kredit Bank Swasta Lebih Tepat?

Seiring pertumbuhan bisnis, kebutuhan modal bisa meningkat jauh lebih besar. Untuk kondisi tersebut, kredit komersial dari bank swasta dapat menjadi salah satu pilihan.

Bank Central Asia menjadi salah satu contoh yang disebut dalam sumber. Bunga kredit komersial umumnya berada pada kisaran 9 hingga 13 persen per tahun, tergantung produk dan profil risiko peminjam.

Namun, persyaratan yang diberikan cenderung lebih ketat. Pelaku usaha dapat diminta menyediakan laporan keuangan yang rapi, legalitas usaha lengkap, serta agunan berupa properti atau aset tetap.

Karena itu, kredit bank swasta lebih relevan bagi bisnis yang sudah stabil dan membutuhkan pembiayaan dalam jumlah besar untuk ekspansi maupun investasi jangka panjang.

Pegadaian Bisa Menjadi Alternatif dengan Jaminan BPKB

Ketika kebutuhan modal cukup mendesak, pembiayaan dengan jaminan BPKB kendaraan dapat menjadi salah satu alternatif yang dipertimbangkan.

Pegadaian menawarkan kredit usaha dengan jaminan BPKB kendaraan. Dalam sumber, sewa modalnya berkisar 1 hingga 1,15 persen per bulan atau sekitar 12 hingga 13,8 persen per tahun.

Plafon pembiayaan disebut mulai Rp1 juta hingga Rp400 juta. Proses pencairannya diperkirakan berlangsung sekitar tiga sampai lima hari kerja.

Skema ini dapat dipertimbangkan oleh pemilik usaha yang mempunyai kendaraan sebagai jaminan dan membutuhkan tambahan modal dalam waktu relatif cepat.

Koperasi Menawarkan Pembiayaan Berbasis Keanggotaan

Selain lembaga perbankan, koperasi simpan pinjam masih menjadi pilihan bagi sebagian pedagang pasar dan pelaku usaha kecil berbasis komunitas.

Kelebihannya terletak pada fleksibilitas yang dapat diberikan kepada anggota. Meski demikian, bunga dalam sumber berada pada kisaran 1 hingga 2 persen per bulan atau sekitar 12 hingga 24 persen per tahun.

Untuk mendapatkan pinjaman, calon peminjam harus menjadi anggota koperasi dan memenuhi kewajiban berupa simpanan pokok serta simpanan wajib.

Oleh karena itu, calon peminjam tetap perlu menghitung total biaya pinjaman dan kemampuan membayar cicilan sebelum menyetujui pembiayaan.

Fintech P2P Lending untuk Kebutuhan Modal yang Cepat

Perkembangan layanan keuangan digital menghadirkan alternatif pembiayaan melalui fintech P2P lending. Pengajuan dilakukan secara digital dan sejumlah produk tidak membutuhkan agunan fisik.

Platform seperti KoinWorks dan Modalku disebut menyediakan pembiayaan produktif tanpa jaminan fisik. Dalam sumber, bunga maksimal untuk pinjaman produktif disebut sekitar 0,067 persen per hari atau kurang lebih 2 persen per bulan.

Persyaratannya antara lain mutasi rekening usaha yang sehat, laporan penjualan atau invoice, serta riwayat kredit yang bersih.

Proses pencairan disebut dapat berlangsung sekitar satu hingga tiga hari kerja. Karena itu, fintech dapat menjadi alternatif bagi UMKM digital atau bisnis berbasis invoice yang membutuhkan dana dalam waktu relatif cepat.

Cara Menghitung Kemampuan Sebelum Mengambil Pinjaman

Sebelum mengajukan pinjaman, tentukan terlebih dahulu untuk apa dana tersebut digunakan. Modal pembelian bahan baku, ekspansi, pembelian aset, dan kebutuhan operasional memiliki karakteristik yang berbeda.

Selanjutnya, hitung kemampuan usaha dalam membayar cicilan. Jangan menjadikan omzet sebagai satu-satunya ukuran karena sebagian pendapatan harus dialokasikan untuk biaya operasional.

Perhatikan pula bunga atau margin, biaya administrasi, tenor, denda, agunan, serta total pembayaran sampai pinjaman lunas.

Jika tujuan utama adalah mendapatkan pembiayaan dengan biaya relatif ringan, KUR dapat masuk dalam daftar pertimbangan. Sebaliknya, kebutuhan dana yang lebih mendesak dapat membuat Pegadaian atau fintech menjadi alternatif, dengan konsekuensi biaya yang perlu dihitung.

Sementara itu, bisnis yang sudah berkembang dan membutuhkan modal besar dapat mempertimbangkan kredit komersial bank swasta. Untuk usaha berbasis komunitas, koperasi juga bisa menjadi pilihan selama seluruh kewajiban dipahami sejak awal.

Pinjaman Harus Mendukung Pertumbuhan Usaha

Pada akhirnya, pinjaman usaha sebaiknya digunakan untuk kebutuhan yang memiliki tujuan jelas dan mendukung kegiatan produktif.

Keputusan mengambil pembiayaan tidak semestinya hanya didasarkan pada besarnya plafon atau kecepatan dana cair. Kemampuan membayar tetap menjadi pertimbangan utama.

Dengan membandingkan bunga, biaya, tenor, persyaratan, dan risiko setiap pilihan, pelaku usaha dapat menentukan pembiayaan yang paling sesuai dengan kondisi bisnisnya.

Pinjaman yang dikelola dengan perhitungan matang dapat membantu usaha berkembang. Sebaliknya, cicilan yang terlalu besar justru berpotensi mengganggu arus kas dan menjadi beban baru bagi bisnis. (*)

Baca Juga:
Tersalin 👍

Berita Terbaru

  • Jangan Asal Pinjam, Ini Cara Memilih Pinjaman Usaha yang Tepat untuk UMKM
  • Jangan Asal Pinjam, Ini Cara Memilih Pinjaman Usaha yang Tepat untuk UMKM
  • Jangan Asal Pinjam, Ini Cara Memilih Pinjaman Usaha yang Tepat untuk UMKM
  • Jangan Asal Pinjam, Ini Cara Memilih Pinjaman Usaha yang Tepat untuk UMKM
  • Jangan Asal Pinjam, Ini Cara Memilih Pinjaman Usaha yang Tepat untuk UMKM
  • Jangan Asal Pinjam, Ini Cara Memilih Pinjaman Usaha yang Tepat untuk UMKM

Posting Komentar