Mata Uang Iran Anjlok ke Rekor Terendah, Rial Tertekan Parah 2026
![]() |
| Mata uang Iran (rial) mencatat rekor terendah pada 14 Jan 2026, melemah tajam di tengah sanksi, inflasi tinggi, dan protes nasional. |
Jakarta, relasinasional.com — Nilai mata uang Iran (rial) jatuh ke rekor terendah sepanjang sejarah pada 13 Januari 2026, mencerminkan krisis ekonomi dalam negeri yang makin dalam dan memicu gelombang protes nasional di berbagai kota besar. Bursa valuta asing bebas menunjukkan satu dolar AS kini diperdagangkan lebih dari 1,4 juta rial, jauh dari beberapa tahun lalu yang masih di bawah 100 ribu per dolar AS.
Depresiasi tajam valuta Iran ini bukan sekadar angka kurs. Pelemahan rial yang drastis telah menekan daya beli masyarakat, mempercepat lonjakan harga kebutuhan pokok, dan memperluas tekanan politik terhadap pemerintah di tengah konflik geopolitik dan sanksi internasional.
Krisis Nilai Tukar Paling Buruk Dalam Sejarah
Data terbaru menunjukkan kurs mata uang Iran anjlok ke level ekstrem, dengan USD seharga sekitar 1,4 juta rial di pasar bebas. Angka ini mencerminkan kemerosotan lebih dari 2.000 persen dalam beberapa bulan terakhir dan menjadi titik terendah sepanjang sejarah bahkan dibandingkan dengan level pasar gelap pada 2025.
Pelemahan rial di tengah tekanan sanksi dipicu oleh kombinasi faktor struktural: sangsi internasional yang mencekik aliran devisa, tingginya inflasi domestik, serta hilangnya kepercayaan investor dan pelaku usaha terhadap stabilitas ekonomi. Permintaan terhadap dolar, emas, dan aset aman lainnya melonjak karena masyarakat mencoba melindungi nilai tabungan mereka.
Inflasi & Kehidupan Masyarakat Makin Tertekan
Kondisi mata uang Iran yang ambruk turut mendorong inflasi tahunan melonjak di atas 40 persen. Harga barang kebutuhan sehari-hari seperti pangan dan transportasi terus meroket, sementara pendapatan rumah tangga nyaris tak bisa mengimbanginya. Depresiasi ini juga berdampak pada pasokan impor dan kontrak luar negeri, sehingga memukul perdagangan dengan mitra seperti India.
Sanksi global yang diperketat sejak akhir 2025 membuat Iran semakin terisolasi dari sistem keuangan dunia. Ekspor minyak, yang sejak lama menjadi penopang utama devisa negara, mengalami hambatan, memperparah defisit perdagangan dan tekanan pada nilai tukar rial.
Protes Meluas dan Tekanan Politik
Guncangan ekonomi ini tak hanya soal angka kurs. Di Teheran dan kota-kota besar lain, pedagang, mahasiswa, dan pekerja turun ke jalan menuntut perbaikan ekonomi dan akuntabilitas pemerintah. Protes yang awalnya dimotori oleh komunitas perdagangan di kawasan Grand Bazaar berkembang menjadi aksi sosial politik yang lebih luas.
Beberapa pelaku bisnis bahkan menghentikan operasi mereka sementara waktu sebagai bentuk protes atas ketidakstabilan kurs dan kesulitan memenuhi kewajiban perdagangan. Gelombang demonstrasi mencerminkan frustrasi luas terhadap pengelolaan ekonomi di tengah tekanan sanksi, yang juga berdampak pada legitimasi elit politik negara.
Mata Uang Iran di Masa Depan
Pengamat ekonomi memperingatkan bahwa tanpa reformasi struktural yang nyata — termasuk stabilisasi moneter, langkah strategis terhadap sanksi, dan perbaikan tata kelola — mata uang Iran berpotensi terus melemah. Beberapa kebijakan seperti rencana redenominasi untuk menghapus sejumlah nol dari nilai rial pernah dibahas, namun implementasinya masih panjang di tengah situasi ekonomi yang genting.
Penurunan drastis mata uang ini bukan sekadar soal kurs semata — tapi mencerminkan kompleksitas tantangan yang dihadapi Iran, dari tekanan geopolitik hingga persoalan domestik yang mendalam. (mis/red)

