BREAKING NEWS

UpScrolled Meledak, Aplikasi Pro-Palestina Tantang TikTok di AS

Aplikasi UpScrolled pro-Palestina menempati peringkat teratas App Store Amerika Serikat
UpScrolled

 Jakarta, relasinasional.com — Aplikasi media sosial UpScrolled mendadak meroket dan menantang dominasi TikTok di Amerika Serikat. Dalam sepekan, jumlah penggunanya melonjak dari sekitar 40 ribu menjadi lebih dari 1 juta akun, sekaligus menempatkannya di peringkat teratas kategori Social Networking Apple App Store AS.


Lonjakan ini dipicu eksodus massal pengguna TikTok setelah finalisasi penjualan operasi TikTok AS kepada konsorsium investor yang dipimpin Larry Ellison. Perubahan kepemilikan itu memicu kekhawatiran sensor, terutama terhadap konten pro-Palestina.


UpScrolled didirikan oleh Issam Hijazi, pengembang teknologi Palestina-Australia. Aplikasi ini diluncurkan pada Juni 2025 melalui perusahaannya, Recursive Methods Pty Ltd.


Hijazi dikenal sebagai veteran teknologi yang pernah bekerja di IBM dan Oracle. Ia menyebut pendirian UpScrolled berangkat dari pengalaman pribadi dan kegelisahan politik.


Dalam sejumlah wawancara, Hijazi mengaku kehilangan anggota keluarga akibat serangan Israel di Gaza. Ia juga merasa tak lagi nyaman bekerja di perusahaan teknologi besar yang dinilainya ikut membatasi suara tertentu.


“Saya melihat tidak ada platform alternatif bagi orang-orang yang merasa disensor, khususnya soal Palestina,” ujar Hijazi dalam salah satu pernyataannya.


UpScrolled mendapat dukungan dari Tech for Palestine, inkubator yang mendanai proyek teknologi terkait isu Palestina. Sejak itu, aplikasi ini memosisikan diri sebagai ruang bebas sensor politik.


Migrasi besar-besaran pengguna terjadi setelah kesepakatan penjualan TikTok AS rampung pada akhir Januari 2026. Konsorsium baru tersebut memiliki kedekatan politik dengan Israel, memicu kekhawatiran perubahan kebijakan moderasi.


Kekhawatiran itu menguat setelah beberapa insiden. Salah satunya pemblokiran permanen akun jurnalis Gaza, Bisan Owda, pemenang Emmy Award yang berkontribusi untuk Al Jazeera.


Tagar #TikTokCensorship juga sempat menjadi tren. Banyak pengguna melaporkan unggahan terkait Palestina kehilangan jangkauan atau tertahan publikasinya.


Pada periode yang sama, TikTok mengalami gangguan teknis dan pemadaman. Meski dijelaskan sebagai masalah infrastruktur, sebagian pengguna mengaitkannya dengan masa transisi kepemilikan.


Kombinasi faktor tersebut mendorong lonjakan unduhan UpScrolled hingga 2.850 persen dalam sepekan. Platform ini kemudian menjadi tujuan utama para pengguna yang hengkang.


UpScrolled menawarkan pendekatan berbeda dari platform arus utama. Salah satu janji utamanya adalah kebijakan “no shadowban”.


Perusahaan menyatakan tidak akan menurunkan visibilitas konten secara diam-diam. Jika ada konten dihapus atau akun dibatasi, pengguna akan mendapat penjelasan terbuka.


Moderasi diklaim hanya diterapkan pada konten ilegal. Diskusi politik, termasuk soal Palestina, disebut tetap diperbolehkan.


Dari sisi teknis, UpScrolled menggunakan feed kronologis. Unggahan dari akun yang diikuti ditampilkan sesuai urutan waktu, tanpa algoritma prediktif kompleks.


Pendiri aplikasi menyebut desain ini disengaja agar tidak bersifat adiktif. Pendekatan tersebut menjadi kritik langsung terhadap model TikTok.


Data per akhir Januari 2026 menunjukkan pertumbuhan signifikan. UpScrolled menempati peringkat pertama kategori Social Networking di App Store AS dan peringkat kedua aplikasi gratis secara keseluruhan.


Di Inggris, aplikasi ini berada di posisi kedua unduhan gratis. Di Kanada dan Australia, UpScrolled masuk 10 besar aplikasi terpopuler.


Secara global, total unduhan mencapai sekitar 700 ribu sejak peluncuran. Sekitar 400 ribu di antaranya berasal dari Amerika Serikat.


Sekitar 85 persen unduhan AS terjadi dalam periode 21–27 Januari 2026. Basis pengguna aktif melonjak drastis hingga menembus 1 juta akun.


Namun, pertumbuhan cepat ini juga memunculkan kontroversi. Laporan Jewish Telegraphic Agency menyebut UpScrolled dibanjiri konten antisemit dan ujaran kebencian.


Beberapa unggahan dilaporkan memuat penyangkalan Holocaust hingga dukungan terhadap kelompok yang diklasifikasikan sebagai teroris. Isu ini memicu sorotan tajam terhadap kebijakan moderasi UpScrolled.


Menanggapi laporan tersebut, pihak UpScrolled mengakui tim moderasi mereka kewalahan. Perusahaan menyatakan sedang memperkuat divisi Trust & Safety dan bekerja sama dengan pakar hak digital.


Langkah itu menyoroti dilema klasik platform media sosial: menjaga kebebasan berekspresi tanpa membiarkan ujaran kebencian berkembang.


Ke depan, UpScrolled berada di persimpangan penting. Infrastruktur teknis mereka sempat kewalahan akibat lonjakan pengguna.


Keberlanjutan platform ini akan bergantung pada kemampuan menskalakan server, membangun moderasi transparan, dan memperluas daya tarik di luar isu politik.


Dengan TikTok masih dilanda transisi bermasalah, peluang bagi UpScrolled dan pesaing baru terbuka lebar. Namun, apakah aplikasi ini mampu bertahan sebagai platform arus utama masih akan diuji dalam bulan-bulan mendatang. (mis/red)

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image