BREAKING NEWS

CERPEN: Aroma Meugang di Balik Terpal dan Istana Angin Tuan M

Aroma Meugang di Balik Terpal dan Istana Angin Tuan M
Pengungsi bertahan di bawah terpal saat pemimpin menjanjikan rumah yang tak pernah ada, sementara pencitraan meugang menutupi kenyataan pahit Ramadhan. [Foto: Ilustrasi]

 CERPEN - Angin sore bertiup lesu melintasi Desa Hilir, membawa serta aroma lumpur kering, debu jalanan, dan keringat yang mengendap di balik terpal-terpal biru. Sudah berbulan-bulan sejak air bah dan tanah longsor di awal tahun menyapu bersih apa yang dulu mereka sebut sebagai rumah. Kini, yang tersisa bagi ribuan Kepala Keluarga di Kabupaten Berkah hanyalah bilik-bilik pengap berukuran dua kali tiga meter yang didirikan seadanya di atas tanah lapang.


Di bawah salah satu tenda yang atapnya mulai robek dimakan cuaca, seorang perempuan tua duduk bersila di atas tikar plastik tipis. Jari-jarinya yang keriput tak henti memutar biji tasbih, sementara bibirnya merapal doa-doa yang suaranya nyaris tenggelam oleh tangis bayi dari tenda sebelah. Udara menjelang Ramadhan biasanya membawa kehangatan dan rindu pada gema tarawih di meunasah, namun tahun ini, udara itu hanya membawa hawa panas yang membakar kulit di siang hari dan dingin yang menusuk tulang rusuk di malam hari.


Pak K Desa Hilir, pria paruh baya yang wajahnya jauh lebih tua dari umurnya, berjalan gontai menyusuri lorong antar tenda. Ia baru saja kembali dari kantor Pemda, membawa secarik kertas yang isinya sama kosongnya dengan perut warga saat musim paceklik.


"Bagaimana, Pak Keuchik? Kapan kita pindah dari oven raksasa ini?" tanya seorang pemuda yang sedang mengipasi ibunya dengan potongan kardus mie instan.


Pak K Desa Hilir hanya bisa tersenyum getir. "Kata orang di atas, kita harus bersabar sedikit lagi. Mereka bilang, kita tidak jadi dapat rumah sementara."


Beberapa hari sebelumnya, di sebuah ruangan ber-AC yang dinginnya mampu membekukan empati, Tuan M berdiri di depan puluhan mikrofon wartawan. Ia merapikan peci hitamnya yang sedikit miring, berdehem pelan, lalu memulai sebuah pertunjukan birokrasi yang memukau.


"Dalam kerangka akselerasi pemulihan pasca-bencana, Pemda mengambil langkah strategis," suara Tuan M menggema, berat dan penuh wibawa. "Kami memutuskan untuk tidak mengusulkan pembangunan Hunian Sementara atau Huntara. Mengapa? Karena berdasarkan laporan yang saya terima, warga sendiri yang menolak. Mereka tidak mau kerja dua kali. Mereka meminta agar langsung dibangunkan Hunian Tetap atau Huntap."


Pernyataan itu meluncur mulus, dibungkus dengan kalimat-kalimat panjang dan berbelit yang membuat substansinya menguap di udara. Di atas kertas, ia terdengar seperti pemimpin yang sangat mendengarkan aspirasi rakyat.


Namun, realitas di lapangan adalah komedi gelap yang tak mengundang tawa. Ketika berita itu sampai ke telinga warga di tenda pengungsian Desa Ujung, Desa Batas Kota, hingga Kecamatan Pesisir dan Aliran, amarah meledak dalam bisikan-bisikan tertahan.


"Kapan kami menolak? Ditanya saja tidak pernah!" gerutu seorang bapak sambil menambal terpalnya yang bocor. "Boro-boro menolak rumah, dikasih papan buat alas tidur saja kami sujud syukur."


Tak ayal, publik mulai berspekulasi. Kabar yang beredar menyebutkan bahwa ketiadaan Huntara bukanlah karena penolakan warga, melainkan karena kealpaan Pemda sendiri. Data dari Kementerian Infrastruktur di ibu kota bocor ke publik, mengungkapkan sebuah fakta yang menampar wajah Kabupaten Berkah: dari seluruh daerah yang terdampak bencana di provinsi ini, hanya Kabupaten Berkah yang sama sekali tidak mengajukan usulan pembangunan Huntara ke pemerintah pusat.


Kehebohan pun menjalar hingga ke gedung Senayan. Tokoh R, seorang wakil rakyat yang dikenal vokal, tak bisa menyembunyikan kegeramannya. "Ini sungguh di luar nalar. Jika Pemda tidak mampu mengurus dokumen usulan, biar kami yang turun tangan langsung dari pusat," ketusnya dalam sebuah wawancara televisi.


Seruan senada bergema dari tokoh-tokoh masyarakat lainnya. Tokoh S dan Tu G, yang selama ini mengamati sepak terjang Tuan M, secara terbuka meminta agar instansi terkait di ibu kota segera mengevaluasi kinerja sang kepala daerah. Desakan agar Tuan M mundur dari jabatannya mulai berseliweran di media sosial, disuarakan oleh mahasiswa, aktivis, hingga ibu-ibu rumah tangga yang muak melihat janji-janji kosong.


Menyadari gelombang protes yang semakin membesar menjelang bulan suci, Tuan M dan tim penasihatnya merancang sebuah strategi serangan balik. Bukan dengan segera mengirimkan material bangunan, melainkan dengan sebuah aksi teatrikal yang diyakini mampu merebut kembali simpati publik: Tradisi Meugang.


Dua hari sebelum Ramadhan, iring-iringan mobil mewah berwarna hitam memasuki area pengungsian. Debu beterbangan, memaksa anak-anak yang sedang bermain tanah menepi. Tuan M turun dari mobil, wajahnya dihiasi senyum ramah yang seolah sudah dilatih berjam-jam di depan cermin. Ia mengenakan kemeja putih bersih yang kontras dengan baju lusuh para pengungsi.


Di tengah lapangan, sebuah kuali besar telah disiapkan. Hari itu adalah hari meugang, tradisi memasak daging menyambut bulan puasa. Tuan M mengambil spatula kayu raksasa, mengaduk kuah kari yang mendidih.


Cekrek! Cekrek! Cekrek!


Kamera dari berbagai sudut mengabadikan momen heroik tersebut. Tuan M tampak sesekali menyeka peluh yang entah asli atau buatan sambil berinteraksi dengan warga yang dikumpulkan paksa untuk menjadi figuran dalam drama dokumenternya.


"Kita pastikan, tidak ada warga yang tidak makan daging meugang hari ini," ucap Tuan M lantang, menatap lurus ke arah lensa kamera utama.


Di sudut tenda, Pak K Desa Hilir hanya bisa menunduk. Daging meugang itu memang lezat, kuahnya gurih. Namun, daging itu dikunyah di atas tanah basah, ditelan bersama debu, dan dicerna di bawah ancaman angin malam yang membekukan. Sejumput daging tidak akan bisa menahan tampias air hujan.


Dalam kunjungan itu, Tuan M kembali melemparkan mantra saktinya. Ia berdiri di atas sebuah tumpukan batu, berpidato dengan suara bergetar yang diklaim sebagai bentuk keharuan. "Jangan khawatir. Pemda tidak melupakan kalian. Kami sudah merencanakan pembangunan ribuan unit Hunian Tetap. Tidak tanggung-tanggung, seribu-an unit pertama akan selesai dalam dua pekan ke depan!"


Sorak-sorai kecil terdengar dari para pendukung yang sengaja dibawa dalam rombongan, sementara warga asli hanya saling pandang. Dua pekan? Membangun seribu rumah permanen dalam dua pekan? Jangankan batu bata, patok tanahnya saja belum ada yang diukur.


Dan benar saja. Waktu berlalu dengan kejam. Ketika tenggat waktu dua pekan itu tiba di awal bulan, yang berdiri di lokasi pembangunan bukanlah dinding-dinding beton, melainkan rumput liar yang semakin tinggi. Realisasi di lapangan: nol unit. Nol besar. Ribuan keluarga tetap menjadi penghuni setia terpal-terpal sumbangan Badan Nasional dan Badan Daerah.


Bahkan, janji tentang Dana Tunggu Hunian (DTH), uang sewa sementara yang seharusnya meringankan beban warga tak kunjung cair dengan alasan kendala administrasi yang tak pernah dijelaskan secara masuk akal.


Ketika didesak oleh wartawan mengenai gagalnya target seribu-an rumah tersebut, para pembela Tuan M tampil ke depan. Dengan bahasa yang tak kalah birokratis, mereka menyalahkan cuaca yang tak menentu, menyalahkan birokrasi pusat yang lamban, menyalahkan vendor, dan secara tersirat, menyalahkan takdir. Semua pihak disalahkan, kecuali pria yang merapikan pecinya di depan kamera.


Kini, Ramadhan telah tiba. Bulan penuh berkah itu turun ke Kabupaten Berkah membawa ujian yang berlipat ganda.


Matahari sore perlahan tenggelam di ufuk barat, memancarkan semburat jingga yang menembus celah-celah terpal. Di pengungsian Desa Hilir, persiapan berbuka puasa adalah sebuah rutinitas bertahan hidup. Tidak ada meja makan kayu, apalagi taplak meja sulaman. Mereka menggelar koran bekas dan tikar plastik di atas tanah.


Hidangan berbuka hanyalah nasi putih jatah dapur umum, lauk mie instan yang dibagi dua, dan segelas air putih hangat yang dimasak dari sisa air galon donatur. Perempuan tua yang memegang tasbih itu membatalkan puasanya dengan seteguk air, lalu terbatuk pelan saat debu tertiup angin ke dalam tendanya.


"Alhamdulillah," bisiknya pelan, sebuah kata yang entah mengapa terdengar begitu menyayat hati di tengah kemiskinan yang dipaksakan ini.


Malam harinya, ibadah tarawih digelar di bawah tenda darurat yang disulap menjadi meunasah. Suara imam bersaing dengan suara angin yang mengepak-ngepakkan terpal. Saat sujud, dahi mereka bersentuhan langsung dengan kerikil tajam yang hanya dilapisi sajadah tipis. Anak-anak kecil tertidur di pangkuan ibunya, kelelahan menahan gerah dan gigitan nyamuk rawa.


Di saat yang persis bersamaan, sekitar belasan kilometer dari lokasi pengungsian, suasana di Pendopo Kabupaten sungguh berbeda.


Lampu gantung kristal memancarkan cahaya keemasan yang hangat dan mewah. Karpet merah tebal menyambut langkah kaki para pejabat, kepala dinas, dan tamu undangan elit. Malam itu, Tuan M menggelar acara Buka Puasa Bersama dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan.


Meja panjang berbentuk huruf U dipenuhi dengan hidangan yang menggugah selera. Ada gulai kambing yang dagingnya terlepas dari tulang hanya dengan sentuhan garpu, ayam tangkap dengan daun teumurui yang harum, ikan bakar segar dari perairan pesisir, hingga kurma-kurma besar yang konon diimpor langsung dari Madinah.


Tuan M duduk di kursi utama, tertawa lepas menanggapi kelakar seorang kepala dinas. Wajahnya berseri-seri, tak ada jejak beban dari ribuan warga yang sedang menahan dingin di desa-desa bawah.


"Alhamdulillah, kebersamaan di bulan Ramadhan ini sungguh membawa nikmat," ucap Tuan M dalam sambutan singkatnya sebelum menyantap hidangan penutup berupa puding berlapis emas yang dapat dimakan. "Kita harus terus bersyukur atas nikmat keamanan dan kesejahteraan di daerah kita."


Kamera kembali berbunyi. Cekrek. Cekrek. Besoknya, foto Tuan M yang sedang berdoa dengan khusyuk di Pendopo akan menghiasi halaman depan surat kabar lokal, lengkap dengan kutipan tentang pentingnya kepedulian sosial di bulan puasa.


Ramadhan perlahan merangkak menuju pertengahan. Di pengungsian, warga mulai belajar berdamai dengan kenyataan. Mereka tak lagi menunggu deru truk yang membawa batu bata. Mereka tahu, kastil angin yang dijanjikan Tuan M tidak akan pernah turun ke bumi. Istana itu hanya ada di udara, dalam pidato-pidato konferensi pers, dan dalam narasi pembelaan para pengikut setianya.


Pak K Desa Hilir kini lebih sering menghabiskan waktunya duduk di luar tenda, menatap bintang yang bersinar dingin di langit malam. Ia tidak lagi marah, hanya lelah. Sangat lelah.


Tuan M sendiri kabarnya sedang sibuk menyusun agenda berikutnya. Ada desas-desus bahwa menjelang Idul Fitri nanti, ia akan kembali berkunjung ke pengungsian. Kali ini, rencananya adalah membagikan kain sarung dan berfoto bersama anak-anak yatim korban bencana dengan latar belakang gema takbir. Sebuah konsep foto yang konon diyakini tim suksesnya akan sangat menyentuh hati para pemilih di masa depan.


Bagi warga pengungsi di Kabupaten Berkah, puasa tahun ini mengajarkan sebuah ironi yang mendalam. Menahan lapar dan haus dari subuh hingga maghrib ternyata jauh lebih mudah daripada menahan rasa mual melihat rentetan kemunafikan yang disajikan setiap hari. Mereka berhasil berpuasa dari makanan, namun para pemimpin mereka terbukti gagal berpuasa dari dusta.


Catatan: Cerpen ini sepenuhnya merupakan karya fiksi yang dibuat untuk tujuan sastra dan refleksi sosial. Semua nama tokoh, tempat, institusi, dan peristiwa yang disebutkan adalah hasil imajinasi penulis. Apabila terdapat kesamaan nama, karakter, lokasi, atau kejadian dengan pihak mana pun, baik yang masih hidup maupun yang telah tiada, hal tersebut semata-mata merupakan kebetulan dan tidak disengaja.


Penulis: M Ilham Sakubat

Editor: Redaksi

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image