Ramadhan di Tenda, Pengungsi Bireuen Tunggu Huntara
![]() |
| Seorang pengungsi duduk di dalam tenda darurat bersama warga lain di lokasi pengungsian korban banjir dan longsor di Kabupaten Bireuen, Aceh. [Foto: Istimewa] |
Bireuen, relasinasional.com — Ratusan pengungsi korban banjir dan tanah longsor di Kabupaten Bireuen, Aceh, masih bertahan di tenda darurat selama Ramadhan 2026 karena hunian sementara (huntara) dan hunian tetap (huntap) yang dijanjikan pemerintah belum tersedia.
Bencana banjir bandang dan longsor yang terjadi pada 26 November 2025 lalu menghancurkan rumah warga dan bahkan menghilangkan sebagian lahan akibat tergerus arus sungai. Hingga kini, para korban belum memiliki tempat tinggal yang layak.
Sebagian besar pengungsi tersebar di 28 desa pada tujuh kecamatan, yakni Kutablang, Peusangan, Peusangan Selatan, Peusangan Siblah Krueng, Jangka, Juli, dan Jeumpa. Mereka terdiri dari anak-anak, perempuan, dan lanjut usia yang rentan terhadap kondisi cuaca ekstrem.
Salah satu lokasi pengungsian berada di Desa Balee Panah, Kecamatan Juli. Sebanyak 43 kepala keluarga dengan ratusan jiwa masih bertahan di tenda darurat di pinggir jalan nasional Bireuen–Takengon Km 9.
Kondisi tenda yang seadanya membuat pengungsi harus menghadapi panas saat siang dan kebocoran saat hujan. Mereka juga menjalani sahur dan berbuka puasa dalam keterbatasan fasilitas dasar.
“Kami belum memiliki tanah, rumah dan tanah kami telah hilang ditelan arus sungai saat banjir dan tanah longsor menerjang desa kami pada 26 November 2025 lalu, seandainya ada huntara kami tidak perlu berbulan-bulan tinggal dibawah tenda darurat seperti ini,” kata seorang pengungsi di Kecamatan Juli, Kamis (19/2/2026).
Meski pemerintah daerah sebelumnya menjanjikan pembangunan huntap, realisasinya belum terlihat signifikan. Di Desa Balee Panah, baru tiga unit rumah contoh yang dibangun, tetapi belum dapat dihuni karena belum tersedia jaringan listrik dan sumber air bersih.
Warga menilai pembangunan rumah percontohan tersebut belum menjawab kebutuhan mendesak para pengungsi. Tanpa huntara, mereka diperkirakan masih akan tinggal di tenda hingga berbulan-bulan ke depan.
“Apalagi saat musim hujan seperti sekarang ini, pengungsi harus makan sahur dan berbuka puasa dalam kondisi darurat di bawah tenda, jika ada huntara akan lebih nyaman,” ujar warga setempat.
Secara umum, huntara merupakan hunian sementara yang dibangun untuk korban bencana sebelum hunian tetap selesai. Fasilitas ini penting untuk memastikan korban memiliki tempat tinggal yang aman dan layak selama masa pemulihan.
Tanpa percepatan pembangunan huntara maupun huntap, kondisi pengungsi dikhawatirkan akan semakin sulit, terutama selama bulan Ramadhan yang membutuhkan stabilitas tempat tinggal dan kesehatan yang memadai. (*)

