BREAKING NEWS

Tradisi Meugang Aceh Maknanya Bukan Sekadar Makan Daging

Tradisi Meugang Aceh Maknanya Bukan Sekadar Makan Daging
Tradisi Meugang Aceh bukan sekadar makan daging. Inilah sejarah, makna sosial, dan perannya menyambut Ramadhan. [Foto: Diskominfo Banda Aceh]

 Banda Aceh, relasinasional.com — Menjelang Ramadhan, satu tradisi ini selalu membuat Aceh terasa lebih hidup. Pasar mendadak ramai, harga daging naik, dapur-dapur mengepul sejak pagi. Inilah Meugang, tradisi turun-temurun yang maknanya jauh melampaui urusan makan bersama.


Bagi orang Aceh, Meugang adalah cara menyambut hari suci dengan rasa syukur, berbagi, dan menjaga harga diri sosial. Tradisi ini telah hidup lebih dari 400 tahun dan tetap bertahan hingga hari ini.


Apa Itu Meugang dan Mengapa Begitu Penting?


Meugang adalah tradisi memasak dan menyantap daging sapi atau kerbau yang dilakukan masyarakat Aceh menjelang momen besar keagamaan.


Tradisi ini dilakukan tiga kali setahun:


  • Menjelang Ramadhan

  • Menjelang Idul Fitri

  • Menjelang Idul Adha


Bukan sekadar kebiasaan, Meugang telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia sejak 2016.


Yang menarik, bagi banyak warga Aceh, belum Meugang rasanya belum sah menyambut puasa atau hari raya.


Akar Sejarah Meugang dari Istana Kesultanan


Meugang bukan tradisi spontan rakyat. Ia berawal dari kebijakan negara pada abad ke-17, di masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, penguasa Kerajaan Aceh Darussalam.


Saat itu, kerajaan menetapkan aturan agar daging dibagikan kepada fakir miskin dan masyarakat kurang mampu menjelang Ramadhan. Kebijakan ini tertulis dalam Qanun Meukuta Alam, semacam konstitusi kerajaan.


Intinya jelas:

Tidak boleh ada rakyat yang menyambut hari suci dalam keadaan lapar.


Semangat inilah yang kemudian diwariskan lintas generasi.


Bukan Wajib Agama, Tapi Kuat Secara Sosial


Secara fikih, Meugang bukan kewajiban agama. Tapi secara sosial, posisinya sangat kuat.


Di banyak daerah di Aceh, tidak ikut Meugang bisa memunculkan rasa “tidak enak” di tengah masyarakat. Ada semacam norma tak tertulis bahwa setiap keluarga harus berusaha menghadirkan daging di hari Meugang, apa pun kondisinya.


Bahkan bagi perantau, Meugang sering menjadi alasan utama pulang kampung.


Bagi menantu laki-laki yang tinggal di rumah mertua, membawa daging saat Meugang dianggap sebagai kewajiban moral. Tidak melakukannya bisa dianggap tabu.


Waktu Pelaksanaan Berbeda, Makna Tetap Sama


Pelaksanaan Meugang tidak seragam di seluruh Aceh.


Di wilayah perkotaan, Meugang biasanya berlangsung dua hari berturut-turut. Sementara di pedesaan, cukup satu hari penuh menjelang puasa atau hari raya.


Perbedaan ini mencerminkan fleksibilitas adat Aceh yang menyesuaikan dengan kondisi ekonomi dan ritme hidup masyarakatnya.


Namun satu hal tak berubah: Meugang selalu dimaknai sebagai momen kebersamaan.


Ragam Masakan Daging Khas Meugang


Tidak ada menu tunggal dalam Meugang. Setiap daerah punya ciri khas.


Di Pidie, Bireuen, dan Aceh Utara, daging biasanya diolah menjadi kari atau sop berkuah.


Aceh Besar dikenal dengan sie reuboh, daging asam keueung, rendang, dan sop daging.


Wilayah barat dan selatan Aceh seperti Nagan Raya dan Aceh Selatan lebih akrab dengan gulai merah bercita rasa pedas.


Meugang juga identik dengan kudapan tradisional seperti timphan, leumang, dan tapai.


Dari Tradisi Sosial ke Perputaran Ekonomi


Dalam praktik modern, Meugang ikut menggerakkan ekonomi lokal.


Tiga kali setahun, muncul fenomena yang dikenal sebagai “Pasar Meugang”. Penjualan sapi dan daging meningkat tajam. Pedagang musiman bermunculan, peternak lokal panen permintaan.


Harga daging memang naik, bisa menembus Rp190 ribu per kilogram. Namun bagi banyak warga, Meugang tetap harus dijalani.


Ada perasaan belum lengkap menyambut Ramadhan jika belum memasak daging Meugang.


Meugang di Era Digital


Tradisi ini juga beradaptasi dengan zaman.


Kini, banyak komunitas sosial menggalang dana untuk Meugang bersama yatim dan dhuafa. Pembelian daging bisa dilakukan secara online. Restoran khas Aceh menawarkan paket menu Meugang bagi keluarga yang tak sempat memasak.


Namun esensinya tetap sama: berbagi dan bersyukur.


Pengakuan resmi dari Kemendikbudristek memperkuat posisi Meugang sebagai aset budaya nasional yang hidup, bukan sekadar simbol.


Meugang Bukan Sekadar Daging


Lebih dari empat abad berlalu sejak tradisi ini dimulai. Istana kesultanan telah lama tiada.


Namun semangatnya tetap hidup di meja makan rakyat Aceh.


Di Meugang, daging bukan hanya soal makanan. Ia adalah simbol kepedulian, keadilan sosial, dan ikatan keluarga.


Sebuah tradisi yang membuktikan bahwa budaya bisa bertahan, selama nilai dasarnya masih dijaga bersama. (mis/red)

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image